Polres Sikka Turun ke Lahan, Ketahanan Pangan Tak Lagi Sekadar Program, Tapi Gerakan Nyata di Sikka

Kegiatan monitoring dan pendampingan yang dilakukan Bhabinkamtibmas dan Kanit Binmas di Kabupaten Sikka berjalan efektif, mendapat dukungan penuh dari masyarakat, serta mampu mendorong peningkatan ketahanan pangan. Meski terdapat kendala teknis seperti keterbatasan bibit dan serangan hama, sinergi antara Polri, petani, dan instansi terkait menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program.

Polres Sikka Turun ke Lahan, Ketahanan Pangan Tak Lagi Sekadar Program, Tapi Gerakan Nyata di Sikka
Dari Buncis hingga Tomat, Polres Sikka Perkuat Ketahanan Pangan

Tribratanewssikka.com - Maunere, 29 April 2026. Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional kini benar-benar terasa di tingkat akar rumput. Di Kabupaten Sikka, peran Polri tidak lagi sebatas menjaga keamanan, tetapi turut menjadi motor penggerak perubahan melalui pendampingan langsung kepada para petani.

Pada Senin, 27 April 2026, Bhabinkamtibmas Desa Masebewa, Kecamatan Paga, AIPDA Kadek Maradona, turun langsung ke lahan milik warga di Dusun Waramari. 

 

Di atas lahan seluas kurang lebih 30 x 20 meter milik Maria Nere—anggota Kelompok Wanita Tani (KWT)—hamparan tanaman buncis sebanyak sekitar 8.000 pohon tumbuh subur, menjadi simbol nyata dari kerja keras sekaligus harapan.

 

Tanaman yang telah berumur 78 hari itu dirawat menggunakan kombinasi pupuk seperti NPK 16, KCL, calsium, dan ultradap, dengan dukungan bibit dan sarana dari Yayasan Bina Tani Sejahtera. 

 

Namun yang menarik, kehadiran aparat kepolisian bukan sekadar memantau, melainkan memberi semangat dan pengetahuan langsung kepada petani.

 

AIPDA Kadek Maradona dalam kegiatan tersebut tidak hanya melakukan monitoring, tetapi juga memberikan edukasi tentang pengelolaan lahan yang efektif dan ramah lingkungan. 

 

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan aparat.

 

Respons masyarakat pun terlihat jelas. Warga menyambut kehadiran Polri dengan antusias, bahkan menyatakan kesiapan untuk terus bersinergi dalam mendukung program strategis nasional tersebut.

 

Dua hari berselang, pada Rabu, 29 April 2026, semangat serupa terlihat di Kecamatan Nita. Kanit Binmas Polsek Nita, AIPDA Fransiskus Hubertus, melakukan monitoring di lahan milik Aurelia Varianti di Dusun Rotat, Desa Ladogahar.

 

Di lahan seluas 30 x 50 meter tersebut, sebanyak 2.700 tanaman tomat yang telah berumur 80 hari menjadi fokus perhatian. Meski tumbuh cukup baik, lahan ini menghadapi tantangan serius—serangan hama karat daun serta keterbatasan bibit dan obat pembasmi hama.

 

Namun di sinilah letak pentingnya kehadiran Polri. Bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pengamat hama dari BPP Kecamatan Nita, kegiatan monitoring tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga wadah solusi. 

 

Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan mendorong peningkatan kapasitas petani dalam menghadapi kendala secara mandiri dan berkelanjutan.

 

AIPDA Fransiskus Hubertus dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar target, tetapi sebuah tanggung jawab bersama. 

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong serta membangun komunikasi aktif dengan pihak terkait.

 

Masyarakat pun kembali menunjukkan dukungan penuh. Mereka tidak hanya menerima kehadiran aparat dengan terbuka, tetapi juga menyatakan komitmen untuk terus berpartisipasi aktif dalam program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah.

 

Dari dua lokasi berbeda ini, satu benang merah terlihat jelas: program ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. Ia telah menjelma menjadi gerakan nyata yang hidup di tengah masyarakat.

 

Kehadiran Polri di tengah petani menjadi bukti bahwa institusi ini terus bertransformasi—tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penggerak kesejahteraan. 

 

Dengan pendekatan humanis, edukatif, dan solutif, Polri berhasil membangun kepercayaan sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan dari desa.

 

Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Kabupaten Sikka akan menjadi salah satu contoh keberhasilan implementasi program ketahanan pangan berbasis kolaborasi lintas sektor.

 

Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya, langkah kecil di lahan-lahan warga ini sejatinya adalah pijakan besar menuju kemandirian pangan Indonesia. [Cm24]