“Dari Kewapante Sikka, Dir Binmas Polda NTT Kirim Pesan Tegas: Polisi Harus Hadir dan Menyentuh Warga”
Kunjungan supervisi Direktorat Binmas Polda NTT di Polsek Kewapante Polres Sikka menjadi penegasan penting terhadap optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat. Melalui penguatan pengawasan, intensifikasi kunjungan door to door, serta pendekatan problem solving berbasis mediasi dan kekeluargaan, Ditbinmas Polda NTT menekankan bahwa kehadiran polisi harus semakin responsif, humanis, dan mampu menjaga stabilitas kamtibmas secara preventif di tingkat akar rumput.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 11 Juni 2026– Penguatan fungsi pembinaan masyarakat sebagai fondasi utama menjaga stabilitas keamanan terus menjadi perhatian serius jajaran Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tengah kompleksitas persoalan sosial masyarakat dan tuntutan pelayanan kepolisian yang semakin dekat dengan warga, Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda NTT menegaskan pentingnya kehadiran nyata aparat kepolisian di tengah kehidupan masyarakat hingga level paling bawah.
Pesan itu mengemuka saat Direktur Binmas Polda NTT, Kombes Pol Sudartomo, S.I.K., M.Si, melakukan kunjungan supervisi ke Polsek Kewapante, Polres Sikka, Kamis pagi (11/6/2026).
Kunjungan yang berlangsung di Mako Polsek Kewapante, Jalan Wairwerut, Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka itu bukan sekadar agenda seremonial supervisi rutin. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus penegasan kembali peran vital Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri dalam menjaga denyut keamanan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Sekitar pukul 08.40 WITA, kendaraan rombongan Direktorat Binmas Polda NTT memasuki halaman Mako Polsek Kewapante. Kehadiran orang nomor satu di lingkungan pembinaan masyarakat Polda NTT itu disambut jajaran Polsek Kewapante yang dipimpin Kapolsek Kewapante IPTU Chairil Syafar, bersama anggota.
Dalam rombongan supervisi tersebut turut hadir AKP Heru Teguh Prastyo selaku Kasibinev Kasubdit Bhabinkamtibmas, Ipda Anita Rahayu Ningsi, S.H. selaku Kaurkeu Subbagkermin, dan Bripka Ni Nyoman, S.H. sebagai Bamin Subbagkermin. Kegiatan itu juga dihadiri Kasat Binmas Polres Flotim bersama anggota, menambah bobot koordinatif dalam agenda pembinaan lintas kewilayahan tersebut.
Setelah memasuki ruang pertemuan, suasana berubah menjadi forum evaluasi yang sarat penekanan strategis. Dir Binmas Polda NTT bersama Kasibinev Kasubdit Bhabinkamtibmas langsung memberikan arahan kepada Kapolsek beserta personel Bhabinkamtibmas terkait optimalisasi pelaksanaan tugas di lapangan.
Dalam arahannya, Kombes Pol Sudartomo menyoroti pentingnya kontrol dan pengawasan yang melekat dari pimpinan wilayah terhadap aktivitas Bhabinkamtibmas. Menurutnya, keberhasilan pembinaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh intensitas kehadiran personel di lapangan, tetapi juga pengendalian dan evaluasi yang konsisten dari pimpinan sektor.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama yakni terkait jumlah personel Bhabinkamtibmas yang tersedia di wilayah hukum Polsek Kewapante. Evaluasi jumlah personel dinilai penting mengingat beban kerja Bhabinkamtibmas yang semakin kompleks di tengah dinamika sosial masyarakat yang terus berkembang.
Namun, penekanan paling kuat tertuju pada pola kerja lapangan yang harus benar-benar menyentuh masyarakat secara langsung. Dir Binmas menegaskan bahwa Bhabinkamtibmas tidak boleh sekadar hadir secara administratif, melainkan wajib membangun komunikasi intensif melalui pola door to door system (DDS) atau kunjungan rumah ke rumah.
Skema kunjungan langsung sebanyak lima kali door to door menjadi perhatian khusus dalam supervisi tersebut. Pola ini dinilai sebagai instrumen efektif untuk membaca dinamika sosial masyarakat sejak dini, mendeteksi potensi gangguan keamanan, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
Bagi jajaran pembinaan masyarakat, pendekatan personal bukan lagi sekadar metode kerja tambahan, tetapi telah menjadi kebutuhan utama dalam menjaga stabilitas wilayah. Kehadiran polisi di tengah masyarakat diharapkan tidak berhenti pada fungsi pengamanan semata, tetapi juga menjadi ruang konsultasi sosial bagi warga.
Tak kalah penting, Ditbinmas Polda NTT juga memberi penekanan serius pada kemampuan problem solving personel Bhabinkamtibmas. Dalam banyak kasus sosial di tingkat desa, pendekatan represif dinilai bukan satu-satunya jawaban. Karena itu, anggota Bhabinkamtibmas didorong untuk lebih mengedepankan penyelesaian persoalan melalui mediasi, komunikasi, dan pendekatan kekeluargaan.
Langkah tersebut dianggap menjadi salah satu strategi efektif dalam mencegah konflik horizontal berkembang menjadi persoalan hukum yang lebih besar. Dengan kemampuan mediasi yang baik, Bhabinkamtibmas diharapkan mampu hadir sebagai penengah sekaligus penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Di sisi lain, supervisi itu juga menyinggung realitas keterbatasan personel di lapangan. Secara normatif, Bhabinkamtibmas tidak dibebankan tugas piket. Namun dalam kondisi minimnya personel, keterlibatan mereka dalam pelaksanaan piket masih menjadi bagian dari penyesuaian kebutuhan operasional di tingkat Polsek.
Meski demikian, Dir Binmas menegaskan bahwa seluruh tugas harus tetap dijalankan secara profesional, penuh tanggung jawab, serta tetap berpedoman pada ketentuan dan mekanisme kerja yang berlaku di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Kunjungan supervisi yang berlangsung singkat namun padat substansi itu berakhir sekitar pukul 08.53 WITA. Usai memberikan arahan dan evaluasi lapangan, rombongan Direktorat Binmas Polda NTT meninggalkan Mako Polsek Kewapante menuju Polres Sikka untuk melanjutkan agenda pembinaan berikutnya.
Selama pelaksanaan kegiatan, situasi berlangsung aman, tertib, lancar, dan kondusif, dengan dukungan mobilisasi menggunakan tiga unit kendaraan.
Di balik durasi kunjungan yang hanya berlangsung sekitar belasan menit, pesan yang dibawa jelas: kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak boleh kehilangan sentuhan manusiawi. Di tangan Bhabinkamtibmas, wajah Polri sesungguhnya dipertaruhkan—bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga mitra warga dalam menjaga kedamaian sosial dari tingkat paling bawah. [Cm24]


