Polres Sikka Peringati Harkitnas ke-118, Kobarkan Semangat Menjaga Generasi Bangsa di Tengah Tantangan Era Digital
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026 di lingkungan Polres Sikka berlangsung aman, tertib, dan penuh khidmat sebagai momentum memperkuat semangat persatuan, nasionalisme, serta komitmen menjaga generasi muda di tengah tantangan era digital demi memperkokoh kedaulatan bangsa.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 20 Mei 2026 – Semangat kebangsaan kembali digaungkan di halaman Markas Polres Sikka pada Rabu pagi (20/5/2026), ketika ratusan personel kepolisian berdiri tegap mengikuti Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 Tahun 2026.

Dalam suasana yang khidmat, penuh disiplin, dan sarat makna kebangsaan, peringatan tahun ini mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, sebuah pesan kuat tentang pentingnya melindungi generasi muda sebagai fondasi masa depan Indonesia.

Upacara yang berlangsung di Lapangan Apel Polres Sikka, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka itu dimulai tepat pukul 07.50 WITA.

Di bawah langit pagi yang cerah, jajaran personel dari berbagai satuan fungsi tampak berdiri dalam formasi rapi, menghadirkan suasana penuh penghormatan terhadap momentum sejarah yang menjadi tonggak kebangkitan nasional bangsa Indonesia.

Bertindak selaku Inspektur Upacara, Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno memimpin langsung jalannya prosesi dengan penuh kharisma dan ketegasan. Sementara tongkat komando lapangan dipercayakan kepada Ipda Ferry Hendriyanto selaku Komandan Upacara, didampingi perangkat upacara yang menjalankan tugas masing-masing secara disiplin dan terukur.
Barisan peserta upacara terdiri dari satu pleton perwira, personel Sat Samapta, Sat Lantas, staf gabungan, Sat Intelkam, hingga Sat Reskrim Polres Sikka. Seluruh peserta mengikuti jalannya upacara dengan penuh penghormatan, mencerminkan semangat pengabdian sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.
Prosesi berlangsung tertib sejak kedatangan Inspektur Upacara di lapangan apel, penghormatan pasukan, laporan Komandan Upacara, hingga pengibaran Sang Merah Putih yang dilakukan dengan penuh khidmat. Saat bendera kebangsaan perlahan naik diiringi lagu Indonesia Raya, suasana berubah hening dan penuh refleksi, seakan mengingatkan kembali perjalanan panjang bangsa ini dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Momentum keheningan semakin terasa saat mengheningkan cipta dipimpin langsung oleh Inspektur Upacara. Seluruh peserta tampak larut dalam refleksi terhadap jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya bangsa Indonesia.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila oleh Inspektur Upacara, diikuti Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dibacakan dengan penuh penghayatan sebagai pengingat akan dasar negara dan arah perjuangan nasional.
Puncak upacara ditandai dengan pembacaan amanat Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia oleh Inspektur Upacara. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa Hari Kebangkitan Nasional ke-118 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali lahirnya kesadaran kolektif bangsa sejak berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908—sebuah titik balik sejarah ketika perjuangan bangsa mulai bergerak dari perlawanan fisik menuju perjuangan intelektual, pendidikan, dan diplomasi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa semangat kebangkitan nasional tidak boleh berhenti menjadi romantisme sejarah. Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi teknologi, tantangan bangsa kini telah berubah wajah. Bila dahulu perjuangan bangsa terfokus pada perebutan wilayah dan kemerdekaan fisik, maka kini medan perjuangan bergeser ke wilayah yang lebih kompleks: menjaga kedaulatan informasi, membangun ketahanan digital, serta memastikan generasi muda tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Tema besar “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” disebut menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Negara yang kuat, mandiri, dan berdaulat tidak lahir dari ketergantungan terhadap pihak luar, melainkan dibangun dari generasi yang sehat, cerdas, tangguh, serta memiliki karakter kebangsaan yang kokoh.
Dalam amanat tersebut juga dipaparkan berbagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi bangsa, mulai dari Program Makan Bergizi Gratis yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini, pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda di wilayah afirmasi, perluasan akses pendidikan dan beasiswa, hingga layanan pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bagian dari penguatan ketahanan kesehatan nasional.
Tak hanya itu, penguatan ekonomi masyarakat desa juga menjadi perhatian serius melalui pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program ini diproyeksikan menjadi simpul kekuatan ekonomi baru yang menopang kemandirian desa melalui akses terhadap pupuk, pembiayaan, distribusi hasil pertanian, kebutuhan pokok, hingga layanan dasar masyarakat.
Namun demikian, perhatian terbesar pemerintah juga diarahkan pada ancaman yang kian nyata di ruang digital. Dalam amanatnya ditegaskan bahwa perlindungan generasi muda kini menjadi prioritas melalui penerapan penuh PP TUNAS (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak). Regulasi ini hadir sebagai respons terhadap meningkatnya tantangan dunia digital, termasuk paparan konten negatif dan risiko penyalahgunaan media sosial terhadap anak-anak.
Kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun dipandang sebagai langkah strategis untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangan psikologis anak. Sebuah langkah yang tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi tentang bagaimana negara menjaga masa depan generasinya.
Melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini, seluruh elemen bangsa—mulai dari akademisi, praktisi, aparatur negara, hingga generasi muda—diajak untuk kembali menghidupkan semangat Boedi Oetomo: semangat persatuan, solidaritas sosial, gotong royong, dan keberanian menghadapi tantangan zaman dengan kecerdasan serta karakter kebangsaan yang kuat.
Di lingkungan Polres Sikka sendiri, pelaksanaan upacara ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momentum mempertegas komitmen institusi kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan, memperkuat pelayanan publik, serta menjadi bagian dari upaya besar membangun bangsa melalui keteladanan disiplin dan pengabdian.
Setelah seluruh rangkaian selesai, upacara ditutup dengan doa bersama, menyanyikan lagu Andika Bhayangkari, laporan akhir Komandan Upacara, dan penghormatan umum. Tepat pukul 08.20 WITA, kegiatan resmi berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan lancar.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, semangat Hari Kebangkitan Nasional kembali mengingatkan bahwa kebangkitan sebuah bangsa tidak pernah lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan, membangun generasi, dan mempertahankan kedaulatan—bukan hanya di darat, laut, dan udara, tetapi juga di ruang pikir dan ruang digital bangsa. [Cm24]


