Panen Jagung Hibrida di Sikka Tembus Dua Ton, Semangat Ketahanan Pangan Tumbuh dari Lahan Petani Wolomarang

Keberhasilan panen jagung hibrida Kelompok Tani Tati Nahing menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara petani, Polri, dan pemerintah mampu memperkuat program ketahanan pangan di Kabupaten Sikka. Meski menghadapi tantangan cuaca yang tidak menentu, semangat dan kerja keras petani berhasil menghadirkan hasil panen yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya serta menumbuhkan optimisme terhadap kemandirian pangan daerah.

Panen Jagung Hibrida di Sikka Tembus Dua Ton, Semangat Ketahanan Pangan Tumbuh dari Lahan Petani Wolomarang
Jagung Hibrida JFR 71 Dipanen, Semangat Petani Sikka Tak Tunduk pada Cuaca

Tribratanewssikka.com - Maumere, 15 Mei 2026 – Di tengah tantangan cuaca yang tak menentu dan tekanan sektor pertanian yang semakin kompleks, semangat petani di Kabupaten Sikka justru tumbuh semakin kuat. 

Dari hamparan lahan jagung di jalur Maumere–Magepanda, Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, optimisme itu terlihat nyata saat Kelompok Tani Tati Nahing melaksanakan panen jagung hibrida JFR 71, Kamis (14/5/2026).

 

Panen tersebut bukan sekadar aktivitas rutin pertanian, melainkan bagian dari Program Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2025 yang terus dikawal dan didampingi jajaran Polres Sikka melalui peran aktif Bhabinkamtibmas di wilayah binaan. 

 

Kehadiran aparat kepolisian di tengah para petani menjadi simbol bahwa ketahanan pangan kini bukan lagi sekadar agenda pertanian, tetapi telah menjadi gerakan bersama demi menjaga stabilitas ekonomi dan ketersediaan pangan masyarakat.

 

Sejak pukul 09.00 Wita, aktivitas panen mulai berlangsung di lahan jagung milik Kelompok Tani Tati Nahing yang berada di lokasi lahan jagung keempat di wilayah Hewuli. Tanaman jagung hibrida jenis JFR 71 yang ditanam pada Januari 2026 itu akhirnya memasuki masa panen setelah melewati proses budidaya selama beberapa bulan dengan berbagai tantangan alam yang menyertainya.

 

Bhabinkamtibmas Kelurahan Wolomarang, AIPDA Hironimus Taji Werang, turun langsung memantau kegiatan panen sekaligus memastikan program ketahanan pangan berjalan optimal di tingkat kelompok tani. 

 

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri dalam mendukung program strategis nasional di sektor pangan, terutama dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

 

Dari lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi, kelompok tani berhasil memanen jagung tongkol basah dengan estimasi produktivitas mencapai dua ton. Angka tersebut menjadi capaian yang cukup menggembirakan bagi para petani karena dinilai lebih baik dibanding hasil panen tahun sebelumnya.

 

Wajah-wajah penuh semangat tampak menghiasi lokasi panen. Ketua Kelompok Tani Tati Nahing, Fredy Ardianus, bersama para anggota kelompok tani mengaku puas dan bersyukur atas hasil yang diperoleh. Bagi mereka, hasil panen kali ini bukan hanya soal jumlah produksi, tetapi juga bukti bahwa kerja keras, pendampingan, dan kebersamaan mampu menghadirkan hasil nyata di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

 

Di balik keberhasilan itu, para petani masih harus berjibaku dengan persoalan klasik yang terus menghantui sektor pertanian, yakni curah hujan yang tidak menentu. Kondisi tersebut menjadi kendala utama dalam proses pengeringan jagung pascapanen yang sangat menentukan kualitas hasil produksi.

 

Cuaca yang berubah cepat membuat petani harus bekerja ekstra agar hasil panen tidak mengalami penurunan mutu. Namun tantangan itu justru memperlihatkan daya juang petani lokal yang tetap bertahan dan terus berproduksi demi menjaga keberlangsungan pangan masyarakat.

 

Panen jagung di Hewuli juga menjadi gambaran bagaimana sinergitas antara petani dan aparat keamanan dapat berjalan harmonis dan produktif. Polri tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga ikut mengambil peran dalam mendukung sektor-sektor strategis yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.

 

Program ketahanan pangan yang dijalankan secara kolaboratif ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di Kabupaten Sikka. Dengan dukungan pemerintah, pendampingan kepolisian, serta semangat kelompok tani yang terus tumbuh, sektor pertanian lokal diyakini mampu menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

 

Di tengah hamparan jagung yang telah menguning dan siap diangkut dari lahan panen, tersimpan harapan besar masyarakat tani Sikka: bahwa dari tanah yang mereka garap dengan keringat dan kesabaran, lahir ketahanan pangan yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan untuk masa depan daerah. [Cm24]