Pengamanan Polres Sikka Berjalan Optimal, Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 Berlangsung Kondusif
Kegiatan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Tahun 2026 hari kedua di Maumere berlangsung aman dan kondusif. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk melestarikan musik tradisional, memperkuat identitas budaya Kabupaten Sikka, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam mewariskan tradisi. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh pengamanan personel Polres Sikka yang berjalan dengan baik.
Maumere, 26 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com — Dentuman Gong Waning, irama musik tradisional, dan gerak tari khas daerah menyatu dalam kemeriahan hari kedua Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Tahun 2026 di Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC) Maumere, Jalan El Tari, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Sabtu (24/10/2026) malam.

Mengusung tema “Gong Ha Lin Dopo, Waning Ha Hagong Nawang”, festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan pernyataan kuat bahwa warisan budaya lokal memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern dan harus terus dijaga agar tidak tergerus zaman.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 18.40 WITA tersebut menghadirkan unsur pemerintah daerah, jajaran Forkopimda, pejabat Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, seniman, budayawan, akademisi, komunitas budaya, pelajar, hingga masyarakat yang antusias menyaksikan pertunjukan musik tradisional.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, S.H.; Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Judi Wahyudin, S.S., M.Hum.; Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K.; Ketua Pengadilan Negeri Maumere Agustinus Sayur Matua Purba, S.H., M.Hum.; serta perwakilan Danlanal Maumere, Mayor Laut (P) Paulino Castro D.S. Turut hadir pejabat Kementerian Kebudayaan RI, jajaran pemerintah daerah, dan para undangan lainnya.
Sejak rombongan Forkopimda dan pejabat Kementerian Kebudayaan RI tiba di lokasi, suasana festival langsung diwarnai nuansa adat melalui musik Keko Gendang dan ritus Wewar Huler Wair sebagai bentuk penghormatan serta sapaan adat kepada para tamu.
Iring-iringan tarian Papak, penyerahan Gong Waning kepada perwakilan seniman, hingga penampilan tarian Tua Reta Lou oleh Sanggar Doka Tawa Tana menjadi bagian dari rangkaian yang menegaskan kuatnya hubungan antara seni pertunjukan, tradisi, dan identitas masyarakat Sikka.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pelestarian musik tradisional tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni. Tradisi harus terus dimainkan, dipelajari, diperkenalkan, dan diwariskan agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Semangat itulah yang tercermin dalam pelaksanaan FMTI 2026. Festival ini membuka ruang bagi para seniman untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan musik tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.
Panggung FMTI hari kedua menjadi ruang ekspresi bagi tujuh kelompok seni dan musik tradisional dari berbagai wilayah di Kabupaten Sikka.
Mereka adalah Sanggar Budaya Nilo Watu Buan dari Kecamatan Waigete, Sanggar Budaya Soletan dari Desa Lewomada, Kecamatan Talibura, Kelompok Musik Leisplang dari Desa Gong Bekor, Kecamatan Alok Timur, Sanggar Budaya Begu Mbetu dari Desa Begu, Kecamatan Paga, Sanggar Budaya Pucuk Indah Bola Tobong dari Misir/Kelurahan Madawat, Orkestra Satu Sikka dari Kecamatan Nita, serta Sanggar Budaya Doka Tawa Tana dari Kecamatan Bola.
Kehadiran kelompok-kelompok tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan musik tradisional Sikka tumbuh dari komunitas, sanggar, dan masyarakat yang terus merawat warisan leluhur.
Setiap penampilan menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kekhasan ekspresi musikal sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap budaya daerah. Dukungan terhadap para pelaku seni pun menjadi bagian penting agar tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi berkembang sebagai kekuatan budaya yang relevan bagi masa depan.
Rangkaian acara berlanjut dengan pembukaan resmi, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, doa lintas agama, laporan Koordinator FMTI Maumere, serta sambutan Bupati Sikka dan perwakilan Kementerian Kebudayaan RI.
Momentum pemberian penghargaan dan penganugerahan kepada seniman musik tradisi turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Penghargaan ini menempatkan para pelaku seni sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan kebudayaan.
Sambutan Menteri Kebudayaan RI yang disampaikan secara daring sekaligus menandai pembukaan Festival Musik Tradisi Indonesia Tahun 2026.
Selain pertunjukan seni, rombongan juga mengunjungi stan pameran dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran unsur pameran dan UMKM memperluas ruang festival, tidak hanya sebagai ajang apresiasi seni, tetapi juga sebagai kesempatan memperkenalkan produk lokal kepada pengunjung.
Kemudian, suasana semakin semarak melalui kegiatan menari bersama yang dipandu Alfred Gare dan rekan-rekan, diiringi lagu-lagu bernuansa Maumere. Interaksi antara seniman dan masyarakat menjadikan festival sebagai ruang kebersamaan yang melampaui batas panggung pertunjukan.
Dari sisi keamanan, Polres Sikka melaksanakan pengamanan berdasarkan Surat Perintah Kapolres Sikka Nomor: Sprin/647/X/PAM.3.3./2026, tanggal 22 Oktober 2026.
Pengamanan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kelancaran seluruh rangkaian kegiatan, sehingga para tamu undangan, seniman, peserta, dan masyarakat dapat mengikuti festival dengan aman dan tertib. Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan berlangsung aman dan kondusif hingga berakhir pada pukul 00.00 WITA.
FMTI 2026 di Maumere menghadirkan pesan yang lebih besar daripada kemeriahan sebuah festival: kebudayaan akan tetap hidup apabila ada kemauan bersama untuk merawatnya.
Gong dan Waning bukan hanya instrumen musik yang menghasilkan bunyi, melainkan bagian dari ekspresi budaya yang menyimpan nilai, ingatan, dan identitas masyarakat. Ketika para seniman tampil, generasi muda belajar, dan masyarakat datang menyaksikan, tradisi memperoleh ruang untuk terus diwariskan.
Namun, tantangan pelestarian budaya tidak selesai ketika panggung ditutup. Keberlanjutan pembinaan seniman, keterlibatan generasi muda, ruang pertunjukan yang konsisten, serta dukungan terhadap komunitas budaya tetap menjadi pekerjaan penting setelah festival berakhir.
Melalui FMTI 2026, Kabupaten Sikka kembali memperoleh ruang untuk memperlihatkan kekayaan musik tradisinya kepada publik. Sebuah pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya, dan modernitas tidak semestinya membuat warisan leluhur kehilangan tempatnya.
Sebab, selama Gong dan Waning masih ditabuh, tradisi masih memiliki suara. Dan selama generasi penerus bersedia menjaganya, identitas budaya Sikka akan tetap hidup, dikenal, dan diwariskan. [Cm24]
"POLISI BERSAMA MASYARAKAT"


