Dari Pos Polisi ke Jendela Dunia, Aipda Wilfridus Majuk Bangun Harapan Anak Talibura Sikka Lewat Taman Baca Bhayangkara

Di tengah derasnya arus gawai dan kebiasaan bermain tanpa arah, sebuah ruang sederhana di Pos Pam Talibura, Kabupaten Sikka, menjelma menjadi tempat menumbuhkan harapan. Bukan sekadar mengajak anak-anak membaca, Bhayangkara Study Club (BSC) berupaya membangun budaya literasi dan menjaga mimpi generasi muda dari sudut pos polisi.

Dari Pos Polisi ke Jendela Dunia, Aipda Wilfridus Majuk Bangun Harapan Anak Talibura Sikka Lewat Taman Baca Bhayangkara
Rak Buku Masih Kosong, Semangat Anak Talibura Sikka Tak Boleh Padam

Maumere, 30 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com — Tidak semua perubahan besar lahir dari gedung megah, anggaran besar, atau program yang gemerlap. Terkadang, perubahan justru dimulai dari sebuah keprihatinan sederhana, selembar buku, dan keberanian untuk melakukan sesuatu ketika keadaan di sekitar tidak lagi bisa dibiarkan berjalan seperti biasa.

Itulah yang melatarbelakangi lahirnya Taman Baca Bhayangkara Study Club (BSC) di Pos Pengamanan (Pos Pam) Talibura, Polsek Waigete, Polres Sikka, pada Mei 2025.

Gagasan ini berangkat dari pemandangan yang hampir setiap sore terlihat di sekitar kompleks pos polisi. Anak-anak berkumpul, bermain sepak bola, berlarian, dan menghabiskan waktu dengan gawai. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari dunia anak-anak. Namun, di balik keramaian itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: sudahkah mereka memiliki ruang yang cukup untuk mengenal buku, membangun kebiasaan membaca, dan mengembangkan cita-cita?

 

Keprihatinan itulah yang menggerakkan AIPDA Wilfridus A. Majuk, S.H., bersama inisiatif pengelolaan taman baca tersebut, untuk menghadirkan alternatif yang lebih bermakna bagi anak-anak di lingkungan Pos Pam Talibura.

 

Bukan dengan ceramah panjang. Bukan pula dengan pendekatan yang menjauhkan anak-anak dari dunia bermain mereka. BSC mencoba masuk melalui cara yang sederhana: menyediakan ruang membaca, mengenalkan buku, dan menumbuhkan kebiasaan belajar di sela-sela aktivitas sehari-hari.

 

Nama Study Club dipilih dengan membawa semangat belajar dan kebersamaan. Di tempat ini, anak-anak diharapkan tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga menemukan pengalaman baru melalui buku dan pengetahuan.

 

Salah satu kebiasaan yang diterapkan adalah mengajak anak-anak membaca buku yang tersedia di ruang perpustakaan sederhana sebelum bermain sepak bola pada sore hari.

 

Kebiasaan itu tampak kecil. Namun, di baliknya tersimpan pesan penting: waktu luang dapat menjadi kesempatan untuk belajar, dan membaca dapat tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari apabila diperkenalkan secara konsisten.

 

Pos polisi yang selama ini identik dengan penjagaan keamanan pun mendapatkan fungsi sosial tambahan. Bukan menggantikan tugas utamanya, melainkan memperluas makna kehadirannya di tengah masyarakat.

 

Sebab, keamanan sebuah lingkungan tidak hanya berkaitan dengan ketertiban hari ini. Ada masa depan anak-anak yang juga perlu diperhatikan, dipersiapkan, dan dijaga bersama.

 

Dari sudut pandang inilah BSC membawa pesan yang lebih luas: kepedulian terhadap generasi muda dapat dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan dari ruang sederhana yang selama ini mungkin tidak pernah dibayangkan sebagai tempat menumbuhkan budaya literasi.

 

Di balik gagasan tersebut, tantangan nyata masih membayangi perjalanan BSC. Ketersediaan rak buku dan koleksi bacaan yang layak masih sangat terbatas. Buku-buku yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan anak-anak dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

 

Padahal, minat membaca perlu dirawat dengan bahan bacaan yang beragam, menarik, dan sesuai dengan usia. Buku cerita dapat menghidupkan imajinasi. Buku pengetahuan dapat memperluas wawasan. Buku pelajaran dapat membantu proses belajar. Sementara bacaan inspiratif dapat membuka cakrawala tentang pilihan masa depan.

 

Tanpa dukungan sarana yang memadai, semangat yang telah dibangun berisiko tidak berkembang secara optimal. Di sinilah persoalan BSC tidak lagi sekadar menjadi urusan pengelola taman baca. Keterbatasan tersebut menjadi panggilan bagi masyarakat, instansi pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan para pegiat literasi untuk ikut mengambil bagian.

 

Anak-anak tidak seharusnya kehilangan kesempatan mengenal dunia hanya karena buku sulit dijangkau. Kalimat itu menjadi inti dari kebutuhan yang ingin disuarakan melalui keberadaan taman baca ini.

 

BSC kini membuka kesempatan bagi para donatur dan relawan untuk berkontribusi dalam pengembangan taman baca, terutama melalui bantuan buku bacaan anak, buku pengetahuan umum, buku pelajaran, rak buku, dan perlengkapan penunjang kegiatan literasi.

 

Bantuan tersebut tidak harus selalu berupa dana dalam jumlah besar. Sumbangan beberapa buku yang masih layak baca pun dapat memperkaya koleksi dan memberikan pilihan baru bagi anak-anak.

 

Dukungan juga dapat hadir dalam bentuk kegiatan membaca bersama, pendampingan belajar, kelas kreatif, maupun keterlibatan komunitas yang memiliki perhatian terhadap pendidikan anak.

 

Bagi BSC, yang dibutuhkan bukan hanya tambahan koleksi buku, tetapi juga keberlanjutan kepedulian agar ruang baca ini terus hidup dan berkembang.

 

Karena membangun budaya literasi bukan pekerjaan sehari semalam. Ia membutuhkan konsistensi, pendampingan, lingkungan yang mendukung, dan keterlibatan banyak pihak.

 

Kisah Taman Baca Bhayangkara Study Club menghadirkan pengingat bahwa gerakan literasi tidak selalu harus menunggu fasilitas sempurna. Inisiatif dapat dimulai dari ruang yang tersedia, digerakkan oleh kepedulian, lalu diperkuat melalui gotong royong.

 

Namun, semangat saja tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan keterbatasan terus berlangsung. Jika anak-anak telah memiliki ruang untuk membaca, maka tugas berikutnya adalah memastikan buku-buku yang tersedia semakin layak, beragam, dan mencukupi kebutuhan mereka.

 

Di Pos Pam Talibura, sebuah upaya kecil sedang dibangun: mendekatkan anak-anak dengan buku, menjadikan belajar sebagai kebiasaan, dan membuka ruang bagi tumbuhnya mimpi.

 

Kini, pertanyaannya bukan hanya apa yang telah dilakukan BSC, melainkan juga siapa yang bersedia ikut melanjutkan langkah tersebut. Sebab, pos polisi mungkin berdiri untuk menjaga keamanan wilayah, tetapi melalui sebuah buku, harapan untuk menjaga masa depan juga dapat dinyalakan.

 

Satu buku mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa. Namun, bagi seorang anak, buku itu bisa menjadi awal dari pengetahuan baru, cita-cita baru, dan keberanian untuk membayangkan kehidupan yang lebih luas.

 

Dari Pos Pam Talibura, Bhayangkara Study Club mengirimkan pesan sederhana tetapi tegas: masa depan generasi muda tidak cukup hanya dibicarakan. Masa depan harus dipersiapkan, dan salah satu jalannya adalah dengan membuka akses terhadap ilmu pengetahuan.

 

Mari bantu mengisi rak-rak buku yang masih kosong. Mari jadikan kepedulian sebagai tindakan nyata. Karena ketika sebuah buku sampai ke tangan seorang anak, yang bertambah bukan hanya koleksi bacaan, melainkan juga kesempatan untuk mengenal dunia.

 

Taman Baca Bhayangkara Study Club (BSC). Dari Pos Polisi, Menyalakan Cahaya Literasi.AIPDA WILFRIDUS A. MAJUK, S.H. Pengelola Taman Baca Bhayangkara Study Club (BSC). [Cm24]

"POLISI BERSAMA MASYARAKAT"