“Bukan Sekadar Panen: Dari Waihawa hingga Hepang, Sikka Sedang Menanam Masa Depan Pangan”

Panen jagung hibrida di Desa Waihawa dan Desa Hepang menjadi penanda bahwa ketahanan pangan bukan sekadar slogan negara. Di tengah ancaman perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan gejolak harga kebutuhan pokok, desa-desa di Kabupaten Sikka membuktikan satu hal: pangan dapat dijaga ketika pemerintah, petani, penyuluh, dan Polri berjalan dalam satu irama.

“Bukan Sekadar Panen: Dari Waihawa hingga Hepang, Sikka Sedang Menanam Masa Depan Pangan”
“Waihawa–Hepang Bersuara Lewat Ladang: Sikka Menanam Harapan, Memanen Ketangguhan”

Tribratanewssikka.com – Maumere, 18 Mei 2026 — Ketahanan pangan sering kali terdengar sebagai jargon besar yang bergaung dari ruang-ruang kebijakan. Namun di Kabupaten Sikka, Flores, istilah itu menemukan bentuknya yang paling nyata: tanah yang dibuka, benih yang ditanam, peluh yang dijatuhkan, serta kebersamaan yang dijaga tanpa lelah.

Sabtu, 16 Mei 2026, menjadi hari ketika desa-desa di Kabupaten Sikka seolah menyampaikan pesan yang tegas namun sederhana—bahwa ancaman krisis pangan tidak harus dijawab dengan kecemasan, melainkan dengan kerja kolektif yang nyata.

Dari bentangan kebun jagung di Dusun Habibola, Desa Waihawa, Kecamatan Doreng, hingga ladang warga di Dusun Bangboler, Desa Hepang, Kecamatan Lela, semangat yang sama tumbuh di antara rumpun-rumpun jagung yang mulai menguning: semangat bertahan, semangat membangun, dan semangat menjaga masa depan pangan dari akar rumput. Yang dipanen hari itu bukan semata jagung. Yang dituai masyarakat adalah harapan.

Di tengah berbagai tantangan global—mulai dari perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi, ancaman inflasi pangan, hingga ketidakstabilan rantai distribusi bahan pokok—masyarakat desa di Kabupaten Sikka memilih satu jawaban paling konkret: memperkuat ketahanan pangan dari ladang sendiri.

Dan menariknya, perjuangan itu tidak berlangsung sendiri. Di balik keberhasilan panen, hadir keterlibatan banyak tangan: petani yang merawat tanaman berbulan-bulan, penyuluh pertanian yang memberi pendampingan teknis, pemerintah desa dan kecamatan yang memastikan program berjalan, hingga aparat kepolisian yang kini mengambil peran lebih luas—bukan hanya menjaga keamanan, tetapi ikut memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Matahari siang di Dusun Habibola, Desa Waihawa, Kecamatan Doreng, terasa menyengat. Namun panas itu tak mengurangi semangat masyarakat yang berkumpul di tengah hamparan jagung hibrida varietas HJ 71 yang berdiri kokoh di atas lahan seluas 1,2 hektare milik BUMDes Habibola Jaya, yang selama ini dikelola oleh Kelompok Tani Mekar Berkembang.

 

Tepat pukul 14.00 WITA, panen jagung resmi dimulai sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2026, sekaligus menjadi puncak dari perjalanan panjang sejak masa tanam yang dimulai pada 18 Januari 2026.

 

Momentum panen itu dipimpin langsung oleh Kapolsek Bola, IPTU Wihelmus Yohanes Besi Tuba, didampingi Kanit Binmas Polsek Bola AIPDA Yohanes Rani bersama jajaran Bhabinkamtibmas.

 

Kehadiran aparat kepolisian di tengah kebun jagung menghadirkan pesan simbolik yang kuat: bahwa keamanan masyarakat hari ini tidak hanya dimaknai sebagai absennya gangguan kamtibmas, tetapi juga hadirnya jaminan terhadap kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya pangan.

 

Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur pemerintah lintas sektor, mulai dari Camat Doreng Ignasius Depa, Kepala BPP Kecamatan Doreng Maria Anselina Wea Ngole bersama jajaran penyuluh pertanian lapangan (PPL), Penjabat Kepala Desa Waihawa, Ketua BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga para petani yang selama berbulan-bulan menjaga tanaman dari ancaman cuaca, hama, dan ketidakpastian hasil panen.

 

Melalui penghitungan ubinan oleh penyuluh pertanian, produktivitas jagung diperkirakan mencapai sekitar lima ton per hektare—angka yang cukup menjanjikan bagi penguatan ketahanan pangan masyarakat sekaligus peningkatan ekonomi petani lokal.

 

Angka tersebut menjadi bukti bahwa desa sesungguhnya memiliki kapasitas besar menjadi fondasi ketahanan pangan daerah, asalkan mendapat dukungan kebijakan, pendampingan, dan kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan.

 

Sehari sebelumnya, Jumat (15 Mei 2026), tim gabungan telah melakukan peninjauan lokasi sebagai bagian dari persiapan Panen Raya Jagung Kuartal II Tahun 2026.

 

Peninjauan dilakukan langsung oleh Kepala BPP Kecamatan Doreng bersama unsur Bhabinkamtibmas, Kanit Binmas Polsek Bola, penyuluh pertanian Yosep Embu Padu, pengurus BUMDes Desa Waihawa, hingga Ketua Kelompok Tani Mekar Berkembang. Koordinasi dilakukan secara detail—mulai dari kesiapan lahan, kesiapan petani, metode panen, hingga dokumentasi hasil produksi.

 

Ketua Kelompok Tani Mekar Berkembang, Blasius Rejang, bersama sekitar 20 anggota kelompok tani, menjadi motor utama keberhasilan tersebut. Dengan hanya memanfaatkan sekitar 12 kilogram benih jagung hibrida varietas HJ 71, mereka mampu mengubah lahan menjadi ruang produktif yang menjanjikan harapan ekonomi bagi masyarakat.

 

Panen bahkan diperkirakan berlangsung selama tiga hari, sebelum seluruh hasil didokumentasikan oleh Bhabinkamtibmas Desa Waihawa. Di balik angka-angka produktivitas itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar: keyakinan bahwa desa masih mampu berdiri di atas kaki sendiri.

 

Di waktu yang nyaris bersamaan, denyut optimisme yang sama tumbuh di Dusun Bangboler, Desa Hepang, Kecamatan Lela. Di atas lahan milik warga Febronius Luis, masyarakat berkumpul menyaksikan panen Jagung Tongkol Hibrida Jenis Jafra, sebuah program ketahanan pangan yang selama berbulan-bulan dikelola secara gotong royong oleh Kelompok Tani Mandiri.

 

Kapolsek Lela, AKP Nyoman Simeon, turun langsung memimpin kegiatan bersama unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Lela, Bhabinkamtibmas Desa Hepang, tokoh masyarakat, hingga para petani yang menjadi tulang punggung keberhasilan program tersebut.

 

Lahan seluas satu hektare yang ditanam sejak 10 Januari 2026 itu bukan milik kelompok tani, melainkan milik warga yang dimanfaatkan bersama demi mendukung program ketahanan pangan desa.

 

Masyarakat tidak hanya bicara tentang pangan, tetapi turut menyediakan tanah, tenaga, dan waktu agar pangan benar-benar tersedia. Ketua Kelompok Tani Mandiri, Agustinus Sin, bersama sekitar 10 anggota kelompok tani, menjadi ujung tombak pengelolaan lahan tersebut.

 

Kerja keras mereka membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam sekali masa panen, produktivitas diperkirakan mencapai sekitar lima ton jagung tongkol kering. Dengan harga pasar berkisar Rp5.000 per kilogram, hasil panen itu memberi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan bagi kelompok tani sekaligus memperkuat cadangan pangan masyarakat di tingkat desa.

 

Bagi masyarakat Hepang, jagung yang dipanen bukan sekadar komoditas pertanian. Ia adalah bentuk keberanian menghadapi masa depan.Ia adalah jawaban sederhana atas kekhawatiran tentang naiknya harga pangan dan ancaman krisis ekonomi.

 

Apa yang berlangsung di Waihawa dan Hepang memperlihatkan satu fakta penting: ketahanan pangan tidak pernah lahir dari kerja individual.Ia membutuhkan kolaborasi. Pemerintah hadir melalui kebijakan dan penguatan program. Penyuluh hadir membawa ilmu pengetahuan dan pendampingan teknis. Kelompok tani hadir dengan kerja keras dan disiplin mengelola lahan. Sementara Polri hadir menjaga stabilitas sosial sekaligus memastikan masyarakat memiliki rasa aman untuk bekerja dan berkembang.

 

Kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah aktivitas pertanian menunjukkan wajah baru pelayanan kepolisian yang semakin dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat. Lebih dari itu, Polri hadir memastikan masyarakat memiliki ruang untuk tumbuh, bekerja, dan bertahan secara ekonomi.

 

Di tengah ancaman perubahan iklim, ketidakpastian global, dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, ladang-ladang jagung di Kabupaten Sikka sedang menyampaikan satu pesan penting: Bahwa ketahanan tidak dibangun dari rasa takut.Ia dibangun dari kerja keras. Bahwa pangan tidak lahir dari pidato. Ia tumbuh dari tanah yang digarap dengan kesungguhan. Dan bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang selama masyarakat masih percaya pada gotong royong.

 

Dari Waihawa hingga Hepang, jagung kini tak lagi sekadar tanaman. Ia telah menjelma menjadi simbol ketangguhan desa, simbol keberanian masyarakat menghadapi ancaman krisis, dan simbol bahwa masa depan pangan dapat tetap dijaga—asal ditanam bersama, dirawat bersama, dan dipanen dengan kebersamaan. [Cm24]