Sigap Tanggap Bencana, Jajaran Polres Sikka Polda NTT Pantau Langsung Longsor yang Mengisolasi Desa Poma
Bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor di Desa Poma, Kecamatan Tana Wawo, Kabupaten Sikka telah menutup dua titik akses jalan utama sejak 06 Maret 2026, sehingga menyebabkan wilayah tersebut sementara terisolir dan menghambat mobilitas masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan, ekonomi, dan aktivitas sosial.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 10 Maret 2026 – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Tana Wawo dalam beberapa hari terakhir memicu terjadinya bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor yang menutup akses jalan utama menuju Desa Poma, Kabupaten Sikka.

Peristiwa tersebut menyebabkan wilayah desa tersebut sementara waktu terisolir dari desa-desa lain di sekitarnya, sehingga menghambat mobilitas masyarakat serta aktivitas pelayanan kesehatan dan ekonomi warga.
Peristiwa tanah longsor tersebut diketahui terjadi pada Jumat, 06 Maret 2026 sekitar waktu dini hari (subuh). Longsoran material tanah, batu, dan batang pohon menutup badan jalan pada dua titik berbeda yang merupakan jalur transportasi utama masyarakat menuju Desa Poma. Hingga saat ini akses jalan hanya dapat dilalui secara terbatas oleh kendaraan roda dua, sementara kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melintas.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, pada Senin, 09 Maret 2026 pukul 08.00 hingga 18.00 WITA, personel Pos Pengamanan Tana Wawo Polsek Paga melaksanakan kegiatan pemantauan sekaligus pengambilan data pada lokasi terdampak bencana. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kanit Binmas/Kapospam Tana Wawo Polsek Paga, Aiptu Fransiskus Lister, bersama Ba Pospam Tana Wawo Bripka Firmianus Weki.
Dalam kegiatan tersebut, aparat kepolisian juga berkoordinasi langsung dengan unsur pemerintah daerah yang turut melakukan peninjauan lapangan, di antaranya Camat Tana Wawo Yohanes Oriwis Ngaga Seso, S.Sos, unsur BPBD Kabupaten Sikka, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sikka, serta Kepala Desa Poma Donatus Nara, S.Pd.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat dua titik longsor utama yang menyebabkan terhambatnya akses transportasi masyarakat.
Titik pertama berada di Lowolaka, Dusun Rate Gili, Desa Poma, tepatnya pada ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Parabubu, Kecamatan Mego menuju Desa Poma, Kecamatan Tana Wawo. Pada lokasi ini, badan jalan tertutup material longsoran berupa tanah, batu, serta batang pohon yang menutupi seluruh bagian jalan.
Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan roda empat tidak dapat melintas sama sekali. Sementara itu, warga setempat secara swadaya melakukan pembersihan sebagian material longsor untuk membuka jalur darurat sehingga kendaraan roda dua masih dapat melintas dengan sangat terbatas dan penuh risiko.
Sementara itu, titik longsor kedua terjadi di Papa, Dusun Detutebha, Desa Poma, pada ruas jalan yang menghubungkan Desa Loke menuju Desa Poma. Longsoran di lokasi ini juga menutup badan jalan dengan material tanah dan batu sehingga akses kendaraan roda empat terputus total. Kondisi jalan yang masih dipenuhi material longsor membuat masyarakat harus ekstra berhati-hati saat melintas, mengingat potensi longsor susulan masih cukup tinggi.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, situasi ini menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat setempat. Bahkan tercatat sebanyak 11 kepala keluarga yang bermukim di sekitar lokasi longsor berada dalam kondisi terancam apabila terjadi longsoran susulan, terutama saat hujan kembali mengguyur wilayah tersebut.
Akibat terputusnya akses jalan tersebut, masyarakat Desa Poma saat ini mengalami kesulitan dalam berbagai aktivitas penting, terutama dalam bidang kesehatan. Data sementara menunjukkan terdapat sejumlah warga yang membutuhkan akses transportasi untuk mendapatkan layanan kesehatan, di antaranya warga lanjut usia yang sedang sakit, enam orang ibu hamil yang berada di Desa Poma, serta empat ibu bersama bayi yang baru saja menjalani proses persalinan.
Selain itu, terdapat pula satu orang ibu hamil yang saat ini berada di Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) Puskesmas Feondari, yang sebelumnya harus menempuh perjalanan menggunakan kendaraan roda dua melalui jalur tersebut untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat sangat berharap adanya penanganan segera dari pemerintah daerah, terutama melalui pengerahan alat berat untuk membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan. Pembukaan kembali akses transportasi dinilai sangat penting untuk mendukung kelancaran layanan kesehatan, aktivitas ekonomi, serta mobilitas sosial masyarakat Desa Poma yang saat ini terhambat.
Dalam kesempatan tersebut, aparat kepolisian juga memberikan himbauan kepada masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca ekstrem masih berlangsung. Warga diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama di sekitar area rawan longsor, serta selalu mengikuti informasi dan arahan dari pemerintah maupun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Sementara itu, koordinasi lintas instansi terus dilakukan guna memastikan langkah penanganan darurat dapat segera dilakukan, sehingga akses jalan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Desa Poma dapat kembali difungsikan secara normal.
Hingga saat ini, situasi di lokasi bencana terpantau dalam keadaan aman dan terkendali. Aparat bersama pemerintah setempat terus melakukan pemantauan perkembangan situasi di lapangan serta siap melaporkan setiap perkembangan terbaru kepada pimpinan guna memastikan penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat. [Cm24]


