“Saat Harapan Hampir Padam, Bhabinkamtibmas Polres Sikka Hadir Menyalakan Kembali Asa di Hewuli”
Respon cepat Bhabinkamtibmas Polres Sikka bersama kepedulian warga berhasil menggagalkan percobaan bunuh diri seorang remaja di Kelurahan Hewuli. Kegiatan sambang dan edukasi yang dilakukan tidak hanya menyelamatkan korban, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan kepedulian sosial sebagai kunci pencegahan
Tribratanewssikka.com - Maumere, 1 Mei 2026 — Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika suasana Kampung Ona, Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang nyaris merenggut masa depan seorang remaja.

Kamis dini hari, 30 April 2026 sekitar pukul 03.00 WITA, seorang pelajar berusia 16 tahun, L.W. B.R. T., diduga mencoba mengakhiri hidupnya akibat tekanan psikologis yang dipendam dalam diam.
Peristiwa ini bermula dari teguran orang tua yang disampaikan di hadapan teman-temannya. Niat mendidik berubah menjadi beban batin yang tak tertahankan. Rasa malu yang mengendap, ditambah tekanan emosional, mendorong sang remaja mengambil keputusan yang nyaris fatal.
Beruntung, kepekaan warga sekitar menjadi benteng terakhir. Aksi cepat mereka berhasil menggagalkan percobaan tersebut, menyelamatkan nyawa yang masih panjang jalannya.
Mendapat laporan dari masyarakat, Bhabinkamtibmas Polres Sikka yang bertugad di Kelurahan Hewuli, AIPDA Taofik, tanpa menunda waktu langsung turun ke lokasi. Pada pukul 09.30 WITA, ia menyambangi rumah keluarga korban di Kampung Ona. Bukan sekadar menjalankan tugas rutin, kehadirannya membawa pendekatan yang lebih dalam: sentuhan kemanusiaan.
Melalui metode Door to Door System (DDS) dan patroli dialogis, AIPDA Taofik membangun komunikasi dengan korban, keluarga, dan warga sekitar.
Ia tidak hanya mendengar, tetapi juga merangkul. Dalam suasana yang hangat dan penuh empati, ia menyampaikan pesan-pesan penting tentang kesehatan mental—isu yang seringkali luput dari perhatian, namun berdampak besar bagi kehidupan seseorang, terutama generasi muda
“Masalah mental itu nyata, sama seperti sakit fisik. Kita semua punya tanggung jawab untuk saling menjaga,” menjadi pesan yang digaungkan dalam kegiatan tersebut.
Ia mengingatkan warga untuk lebih peka terhadap tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami tekanan batin, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan perilaku drastis, hingga ungkapan putus asa.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya mendengar tanpa menghakimi, mendampingi tanpa menggurui, serta membuka akses terhadap bantuan profesional.
Kepada keluarga korban, disampaikan pula pentingnya membangun komunikasi yang sehat dan penuh pengertian, terutama dalam mendidik anak di usia remaja yang rentan terhadap tekanan sosial dan emosional.
Langkah cepat dan pendekatan humanis tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat. Warga Kampung Ona menyambut baik kehadiran Polri yang tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom yang peduli terhadap persoalan kemanusiaan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka statistik, ada cerita, ada luka, dan ada harapan yang perlu dijaga bersama. Kepedulian kecil, sapaan sederhana, atau kehadiran di saat genting, dapat menjadi penentu antara hidup dan kehilangan.
Kegiatan berlangsung dalam keadaan aman dan lancar. Namun lebih dari itu, yang tertinggal adalah pesan kuat: bahwa keselamatan jiwa bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan komitmen bersama.
Di Kampung Ona, hari itu, kepedulian telah memenangkan pertarungan. Dan seorang remaja, masih diberi kesempatan untuk menata kembali masa depannya.[Cm24]


