Pulihkan Luka Tak Kasatmata Pascagempa, Polres Sikka Kembalikan Senyum Anak-anak

Kegiatan Trauma Healing Sat Binmas Polres Sikka di MIS Muhammadiyah Wuring menjadi wujud nyata kepedulian Polri dalam memulihkan trauma pelajar pascagempa. Melalui pendekatan humanis, permainan, bernyanyi, dan edukasi kebencanaan, Polri berupaya mengembalikan rasa aman, semangat belajar, serta keceriaan anak-anak sekaligus memperkuat kepercayaan dan sinergitas dengan masyarakat demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

Pulihkan Luka Tak Kasatmata Pascagempa, Polres Sikka Kembalikan Senyum Anak-anak
Polres Sikka Pulihkan Trauma Pelajar Pascagempa, Hadir Mengembalikan Senyum dan Rasa Aman Anak-anak

Maumere, 10 September 2026. Tribratanewssikka.com— Gempa bumi tidak hanya meninggalkan jejak pada bangunan dan lingkungan, tetapi juga dapat menyisakan ketakutan yang mendalam dalam benak anak-anak. Di tengah upaya masyarakat menata kembali kehidupan pascabencana, pemulihan kondisi psikologis menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Menyadari hal tersebut, Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Sikka mengambil langkah nyata dengan menghadirkan kegiatan Trauma Healing bagi para pelajar di MIS Muhammadiyah Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 10.00 WITA itu bukan sekadar aktivitas bermain bersama anak-anak. Di balik suasana riang, nyanyian dan permainan sederhana, tersimpan misi penting: mengembalikan keberanian anak-anak untuk kembali belajar, beraktivitas, dan menjalani hari-hari mereka tanpa terus dibayangi rasa takut akibat gempa bumi.

 

Personel Sat Binmas Polres Sikka hadir dengan pendekatan yang humanis. Anak-anak diajak berkomunikasi secara terbuka dan diberikan ruang untuk menceritakan pengalaman maupun perasaan yang mereka alami setelah bencana.

 

Tidak ada penghakiman. Tidak ada tekanan. Yang diberikan adalah telinga untuk mendengar, ruang untuk bercerita, serta dukungan agar anak-anak memahami bahwa rasa takut, cemas maupun sedih yang muncul setelah mengalami bencana merupakan sesuatu yang wajar.

 

Pendekatan empati tersebut menjadi pintu masuk untuk membantu anak-anak perlahan keluar dari bayang-bayang trauma. Suasana kemudian dibangun menjadi lebih cair melalui terapi bermain, bernyanyi bersama dan berbagai permainan sederhana. Tawa anak-anak yang mulai terdengar menjadi bagian penting dari proses pemulihan tersebut.

 

Sebab, bagi anak-anak, pemulihan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang rumit. Terkadang, kesempatan untuk bermain, bernyanyi, didengarkan, dan merasa aman sudah menjadi langkah awal untuk kembali menemukan keberanian.

 

Selain memberikan dukungan emosional, personel Polres Sikka juga menyampaikan edukasi ringan mengenai kebencanaan. Edukasi tersebut diberikan dengan cara yang mudah dipahami para pelajar, sehingga mereka memiliki pengetahuan dasar dalam menghadapi kemungkinan bencana dan tidak mudah larut dalam kepanikan.

 

Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun ketahanan mental para pelajar. Mereka tidak hanya didorong untuk melupakan rasa takut, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki kemampuan menghadapi tekanan dan situasi sulit secara lebih tenang pada masa mendatang.

 

Di sinilah wajah lain pelayanan Kepolisian terlihat. Polri tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan pengamanan. Di tengah situasi pascabencana, Polri juga hadir untuk memastikan bahwa rasa aman tidak berhenti pada aspek keamanan fisik, tetapi menyentuh sisi psikologis masyarakat.

 

Kehadiran personel kepolisian di lingkungan sekolah menjadi pesan bahwa anak-anak dan masyarakat tidak berjalan sendiri menghadapi dampak bencana.

 

Lebih jauh, kegiatan Trauma Healing tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri. Pendekatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat menunjukkan bahwa tugas Kepolisian memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat.

 

Keamanan dan ketertiban masyarakat tidak semata-mata dibangun melalui tindakan penegakan hukum, tetapi juga melalui kepedulian, komunikasi, kebersamaan, serta kemampuan merespons kebutuhan masyarakat pada saat-saat sulit.

 

Kegiatan tersebut juga memperkuat sinergitas Polri dengan lingkungan pendidikan dan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi semacam ini menjadi penting untuk membangun ketahanan sosial sekaligus menciptakan situasi kamtibmas yang tetap aman, damai, dan kondusif di wilayah Kabupaten Sikka.

 

Dalam kegiatan tersebut, hadir Kanit Binpolmas Aipda Maria Avelina, Bamin Sat Binmas Bripka Vera Hehanussa, serta anggota SDM Polres Sikka. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 10.00 WITA dan berlangsung dalam keadaan aman, lancar, serta kondusif.

 

Trauma Healing di MIS Muhammadiyah Wuring pada akhirnya bukan sekadar kegiatan sehari bersama para pelajar. Ia menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana memiliki wajah yang jauh lebih luas.

 

Bangunan dapat diperbaiki, lingkungan dapat ditata kembali, tetapi rasa takut di dalam diri seorang anak membutuhkan sentuhan, perhatian dan kepedulian untuk dipulihkan.

 

Melalui kegiatan tersebut, Sat Binmas Polres Sikka menunjukkan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga untuk menguatkan yang rapuh, menenangkan yang takut, dan menyalakan kembali harapan setelah bencana. Karena ketika senyum anak-anak kembali hadir, di situlah salah satu tanda bahwa masyarakat mulai bangkit. [Cm24]