“Gempa Mengguncang, Semangat Tak Boleh Tumbang: Polres Sikka dan Tim Psikologi Polda Bali–NTT Pulihkan Trauma, Bangkitkan Kembali Semangat Belajar Siswa”

Kegiatan Trauma Healing oleh Tim Psikologi Polda NTT, Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka menjadi langkah nyata dalam memulihkan kondisi psikologis siswa dan guru MIS Muhammadiyah Maumere pascagempa. Melalui Terapi USEFT dan hiburan, para siswa didorong untuk kembali merasa aman, percaya diri, dan siap melanjutkan kegiatan belajar mengajar.

“Gempa Mengguncang, Semangat Tak Boleh Tumbang: Polres Sikka dan Tim Psikologi Polda Bali–NTT Pulihkan Trauma, Bangkitkan Kembali Semangat Belajar Siswa”
Gempa Berlalu, Trauma Dipulihkan: Polres Sikka dan Tim Psikologi Polda Bali–NTT Dampingi Siswa Kembali ke Bangku Sekolah

Maumere, 31 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com— Gempa bumi tidak hanya mengguncang bangunan dan tanah, tetapi juga meninggalkan jejak kecemasan di benak mereka yang mengalaminya. Bagi anak-anak sekolah, guncangan tersebut bahkan dapat berubah menjadi rasa takut yang terbawa hingga ke ruang kelas. 

Menyadari hal itu, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka turun langsung memberikan pendampingan psikologis melalui kegiatan Trauma Healing/Terapi USEFT kepada siswa, siswi dan guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muhammadiyah Maumere, Senin (31/8/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WITA tersebut berlangsung di lingkungan Sekolah MIS Muhammadiyah Maumere, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka. 

Momentum ini menjadi bagian penting dalam upaya mengembalikan keberanian, rasa aman dan kepercayaan diri para siswa serta tenaga pendidik untuk kembali menjalani aktivitas belajar mengajar setelah sebelumnya kegiatan pendidikan sempat dihentikan akibat bencana alam gempa bumi.

 

Bukan sekadar menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut membawa pesan yang jauh lebih dalam: bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika guncangan tanah mereda, tetapi harus dilanjutkan dengan memulihkan rasa aman manusia yang terdampak.

 

Kegiatan Trauma Healing dipimpin oleh Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi., didampingi Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT serta personel Bag SDM Polres Sikka.

 

Dengan pendekatan psikologis yang disesuaikan dengan karakter anak-anak, kegiatan dikemas melalui Terapi USEFT dan berbagai bentuk hiburan. Suasana yang semula diwarnai kekhawatiran perlahan diarahkan menjadi ruang yang lebih nyaman dan penuh interaksi. 

 

Anak-anak tidak hanya diajak mengikuti kegiatan, tetapi juga diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan, membangun kembali rasa percaya diri dan mengalihkan ketakutan yang muncul setelah mengalami peristiwa gempa bumi.

 

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengalaman bencana dapat meninggalkan dampak psikologis yang tidak selalu terlihat secara kasatmata. Ketakutan untuk kembali berada di dalam ruangan, kecemasan ketika merasakan getaran kecil, hingga kekhawatiran bahwa gempa akan kembali terjadi merupakan respons yang dapat muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.

 

Karena itu, kehadiran tim psikologi di lingkungan sekolah bukan semata-mata kegiatan seremonial. Ini adalah intervensi kemanusiaan untuk memastikan anak-anak tidak tumbuh bersama ketakutan akibat bencana yang mereka alami.

 

Sekolah dipilih sebagai salah satu ruang pelaksanaan Trauma Healing karena di tempat inilah kehidupan anak-anak kembali dibangun. Ruang kelas bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi juga ruang untuk membentuk keberanian, membangun pertemanan dan menata kembali rutinitas setelah situasi darurat.

 

Kembalinya siswa ke sekolah dengan kondisi psikologis yang lebih siap menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana. Guru pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut. Mereka tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi figur yang setiap hari berhadapan langsung dengan kondisi psikologis anak-anak.

 

Melalui kegiatan tersebut, pesan yang hendak dibangun sangat jelas: gempa boleh mengguncang tanah, tetapi tidak boleh mematahkan semangat anak-anak untuk belajar dan menatap masa depan.

 

Sinergi antara Polda NTT, Polda Bali dan Polres Sikka menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga menyentuh sisi psikologis masyarakat.

 

Polri dalam konteks ini hadir bukan hanya ketika terjadi gangguan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan rasa aman setelah menghadapi situasi bencana. Kehadiran personel psikologi di tengah siswa dan guru menjadi bentuk nyata pendekatan Polri yang lebih humanis—mendengar, mendampingi dan membantu masyarakat bangkit dari tekanan psikologis akibat bencana.

 

Bagi anak-anak, kegiatan tersebut menjadi jembatan untuk kembali memasuki dunia sekolah tanpa dibayangi ketakutan berlebihan. Tawa, permainan, interaksi dan terapi menjadi medium untuk perlahan menggantikan memori menegangkan dengan pengalaman positif.

 

Sementara bagi para guru, kegiatan ini juga menjadi penguatan bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana. Dukungan profesional diperlukan agar para pendidik mampu kembali menjalankan perannya secara optimal sekaligus menjadi sumber ketenangan bagi peserta didik. Kegiatan Trauma Healing berlangsung hingga pukul 11.30 WITA. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib dan lancar.

 

Lebih dari sekadar agenda pendampingan psikologis, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa proses pemulihan pascabencana harus menyentuh manusia secara utuh. Ketika bangunan dapat diperbaiki dengan material, maka rasa takut membutuhkan sentuhan, pendampingan dan waktu untuk dipulihkan.

 

Dari ruang sekolah di Waioti, pesan itu kembali ditegaskan: bencana mungkin datang tanpa diundang, tetapi ketakutan tidak boleh dibiarkan menentukan masa depan anak-anak. Mereka harus kembali belajar, kembali tersenyum dan kembali percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk bermimpi.

 

Kehadiran Tim Psikologi Polda NTT, Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka menjadi bagian dari ikhtiar tersebut—mengubah trauma menjadi keberanian, kecemasan menjadi ketenangan, dan pengalaman bencana menjadi titik balik untuk bangkit. Gempa telah berlalu. Kini saatnya semangat untuk bangkit kembali menggema dari ruang-ruang kelas. [Cm24]