Polres Sikka Terus Bergerak Pascagempa: Logistik Mengalir, Korban Palue Dievakuasi dengan Helikopter Polri

Penanganan pascagempa di Kabupaten Sikka terus bergerak cepat dan terkoordinasi. Bantuan logistik didistribusikan ke wilayah terdampak, sementara korban yang membutuhkan pertolongan medis dievakuasi dari Palue melalui jalur udara. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan terkendali, mencerminkan kuatnya respons kemanusiaan di tengah situasi bencana.

Polres Sikka Terus Bergerak Pascagempa: Logistik Mengalir, Korban Palue Dievakuasi dengan Helikopter Polri
Polres Sikka Tak Kenal Jeda Pascagempa: Logistik Mengalir, Korban Palue Dievakuasi dengan Helikopter Polri

Maumere, 23 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com— Di tengah situasi darurat pascagempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026), penanganan terhadap masyarakat terdampak terus bergerak. Bantuan logistik dikeluarkan dari gudang BPBD Sikka, diangkut menuju wilayah yang membutuhkan, sementara korban yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut dievakuasi dari Pulau Palue melalui jalur udara.

Sejak sore hari, aktivitas di pusat logistik penanganan bencana di Kabupaten Sikka tampak tidak mengenal jeda. Barang bantuan kemanusiaan dibongkar, dipindahkan, ditata, lalu kembali dimuat ke kendaraan untuk didistribusikan ke sejumlah titik terdampak.

Gerak cepat tersebut menjadi bagian penting dari respons darurat pemerintah bersama unsur kepolisian dan personel penanggulangan bencana untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak gempa tetap terpenuhi.

Pada pukul 15.30 Wita, bertempat di Kantor BPBD Sikka, Jalan Mawar Nomor 28, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, dilakukan pendropingan bantuan logistik menuju Kecamatan Tanawawo, salah satu wilayah yang terdampak gempa bumi.

Distribusi bantuan tersebut dipimpin Ketua Koordinator Penerimaan dan Pengeluaran Barang Bantuan Kabupaten Sikka, Ferdinandus Lepe. Kegiatan turut dihadiri Kaposko BPBD Sikka Iptu Maoritsius Herson Liman, Wakaposko BPBD Sikka Ipda Fery Hendriyanto, Wakaposko BPBD Ipda Marhasym, serta personel Polres Sikka yang tergabung dalam Surat Perintah Tugas Nomor Sprint/346/VIII/OPS 2.1/2026.

 

Bantuan yang diberangkatkan bukan sekadar simbol kepedulian. Di dalam kendaraan pengangkut terdapat kebutuhan dasar yang langsung bersentuhan dengan kehidupan para penyintas.

 

Sebanyak 350 kilogram beras, 61 dos mi instan, 37 liter minyak goreng, dan 30 dos air mineral diberangkatkan menuju wilayah Tanawawo. Bantuan juga mencakup 20 buah minyak kayu putih, 21 kilogram gula, 27 buah popok, serta sejumlah pembalut.

 

Seluruh logistik tersebut diangkut menggunakan mobil dump truck. Namun, pergerakan bantuan tidak berhenti di Tanawawo. Sekitar pukul 17.00 Wita, dari lokasi yang sama, kembali dilakukan pendropingan bantuan logistik menuju Posko Gelora Samador, Kecamatan Alok, yang juga menjadi titik penanganan masyarakat terdampak gempa.

 

Kali ini, bantuan yang dikirim berupa 100 paket sembako, 100 dos air mineral, dan 100 liter minyak goreng. Kegiatan kembali dipimpin Ferdinandus Lepe dan melibatkan unsur BPBD serta personel Polres Sikka yang telah ditugaskan dalam operasi tanggap darurat bencana.

 

Di sisi lain, proses mobilisasi bantuan kemanusiaan juga terus berlangsung. Barang-barang bantuan yang sebelumnya berada di tempat penyimpanan kembali dibongkar dan dipindahkan untuk dimuat ke dua unit truk Koperasi Desa Merah Putih.

 

Truk-truk tersebut disiapkan untuk membawa bantuan menuju Kabupaten Nagekeo, menunjukkan bahwa dampak bencana dan kebutuhan kemanusiaan tidak berhenti pada satu wilayah administratif saja.

 

Rantai distribusi itu memperlihatkan satu hal: dalam situasi bencana, waktu menjadi sangat berharga. Bantuan yang berada di gudang belum menjadi pertolongan sebelum sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.

 

Karena itu, setiap proses—mulai dari pembongkaran, pemindahan, pemuatan hingga keberangkatan—menjadi bagian dari operasi kemanusiaan yang sama pentingnya.

 

Ketika logistik bergerak melalui jalur darat, respons kemanusiaan juga berpacu dengan waktu di wilayah kepulauan. Pada pukul 17.08 Wita, sebuah Helikopter Polairud BELL 429 P-3202 digunakan untuk mengevakuasi korban terdampak gempa bumi dari Pulau Palue menuju Maumere.

 

Evakuasi berlangsung di Lapangan Futsal Karang Mas, Dusun Mudemi, Desa Reruwairere, Kecamatan Maumere. Korban yang dievakuasi adalah Yohanes Riba, laki-laki berusia 79 tahun, warga Dusun Nitung, RT 001/RW 002, Desa Nitunglea, Kecamatan Palue.

 

Ia mengalami pembengkakan pada kedua kaki akibat tertimpa runtuhan bangunan rumah saat gempa terjadi. Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut di daratan Kabupaten Sikka. Dalam situasi geografis kepulauan seperti Palue, jalur udara menjadi pilihan penting ketika akses transportasi konvensional tidak dapat memberikan kecepatan yang dibutuhkan.

 

Evakuasi tersebut turut disaksikan dan dikawal langsung jajaran Polres Sikka. Hadir Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., Waka Polres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., Kapolsek Nelle Iptu I Nyoman Sang Pawarta, KBO Sat Samapta Ipda Paulus Wayan Keso, serta personel Polres Sikka yang tergabung dalam tugas tanggap darurat bencana gempa bumi Palue.

 

Korban didampingi tenaga medis dan personel kepolisian selama proses pemindahan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi korban tetap terpantau dan keselamatan tetap menjadi prioritas selama proses evakuasi.

 

Sesaat kemudian, tubuh renta korban dinaikkan ke dalam helikopter. Mesin pesawat berputar. Jalur udara menjadi jalan keluar dari sebuah pulau yang sedang menghadapi situasi darurat. Helikopter kemudian membawa Yohanes Riba dari Palue menuju Maumere untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis lanjutan. Proses evakuasi berakhir sekitar pukul 17.20 Wita dan berlangsung aman serta kondusif.

 

Satu Kabupaten, Satu Gerak Kemanusiaan. Rangkaian kegiatan sepanjang sore itu menggambarkan wajah penanganan bencana di Sikka: bukan hanya soal bantuan yang datang, tetapi bagaimana bantuan tersebut dipindahkan dari satu tangan ke tangan berikutnya hingga mencapai masyarakat terdampak.

 

Dari gudang BPBD di Jalan Mawar, bantuan bergerak menuju Tanawawo. Dari pusat logistik yang sama, paket kebutuhan dasar dikirim menuju Posko Gelora Samador. Pada saat bersamaan, bantuan kemanusiaan kembali dimuat ke kendaraan untuk perjalanan menuju Nagekeo.

 

Sementara dari Palue, jalur udara dibuka untuk menyelamatkan seorang warga lanjut usia yang membutuhkan pertolongan medis. Semua bergerak dalam satu garis yang sama: memastikan masyarakat yang berada di tengah bencana tidak menghadapi keadaan darurat seorang diri.

 

Bantuan berupa beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, gula, popok dan kebutuhan lainnya mungkin tampak sederhana. Tetapi dalam situasi ketika rumah-rumah terdampak, aktivitas masyarakat terganggu dan kebutuhan dasar menjadi persoalan sehari-hari, barang-barang tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.

 

Begitu pula sebuah penerbangan helikopter bukan sekadar operasi udara. Di dalamnya ada seorang korban yang membutuhkan pertolongan, keluarga yang menunggu, tenaga medis yang bersiap, serta personel yang memastikan setiap tahapan berjalan dengan aman.

 

Sore di Sikka pun tidak benar-benar menjadi waktu untuk berhenti. Ketika sebagian orang mungkin sedang mencari tempat aman untuk beristirahat setelah menghadapi guncangan gempa, di sisi lain kendaraan logistik masih bergerak, bantuan masih dipindahkan, truk masih dipersiapkan, dan helikopter masih mengudara membawa korban menuju tempat yang lebih memungkinkan untuk mendapatkan pertolongan.

 

Bencana boleh mengguncang tanah, tetapi respons kemanusiaan tidak boleh ikut goyah. Dan pada Minggu sore itu, Sikka menunjukkan bahwa di tengah kepanikan dan keterbatasan, satu hal tetap harus bergerak lebih cepat daripada rasa takut: pertolongan. [Cm24]