Kapolres Sikka Imbau Warga Tak Terprovokasi Hoaks Gempa, Utamakan Informasi Resmi dan Solidaritas
Kapolres Sikka AKBP BAMBANG SUPENO, S.I.K. mengajak masyarakat untuk tetap tenang, waspada, dan tidak mudah terpengaruh maupun menyebarkan hoaks terkait gempa. Masyarakat diminta menjadikan sumber resmi sebagai rujukan, menyaring setiap informasi sebelum membagikannya, serta memperkuat solidaritas dan gotong royong agar penanganan bencana berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Maumere, 17 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah situasi pascagempa yang dapat memicu kecemasan dan kepanikan di tengah masyarakat, Kapolres Sikka AKBP BAMBANG SUPENO, S.I.K. mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sikka untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh isu yang beredar, serta lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan setiap informasi, terutama yang berkaitan dengan kondisi gempa dan penanganan bencana.
Kapolres Sikka menegaskan bahwa ketenangan masyarakat merupakan bagian penting dalam menghadapi situasi kebencanaan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan untuk memperoleh informasi, terlebih terhadap kabar yang sumbernya tidak jelas, tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, atau sengaja dikemas secara provokatif untuk menimbulkan ketakutan.
AKBP BAMBANG SUPENO mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, informasi memiliki kekuatan yang sangat besar. Informasi yang benar dapat membantu masyarakat mengambil langkah yang tepat, sementara informasi palsu atau hoaks justru dapat memperkeruh keadaan, menimbulkan kepanikan, bahkan menghambat proses penanganan bencana di lapangan.
“Tetap tenang dan jangan mudah percaya terhadap berita maupun isu yang beredar di media sosial atau sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi resmi mengenai penanganan gempa hanya akan disampaikan melalui sumber-sumber resmi pemerintah,” tegas Kapolres Sikka.
Masyarakat diminta menjadikan Pemerintah Daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI/Polri sebagai rujukan utama dalam memperoleh informasi terkait perkembangan situasi gempa, langkah penanganan, maupun imbauan keselamatan.
Menurut Kapolres, masyarakat tidak perlu ikut menyebarluaskan informasi hanya karena informasi tersebut sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Setiap kabar harus terlebih dahulu disaring, diperiksa sumbernya, dan dipastikan kebenarannya sebelum diteruskan kepada orang lain.
“Kami mengingatkan agar warga selalu menyaring informasi sebelum menyebarkannya. Jangan sampai informasi yang belum tentu benar justru menimbulkan kepanikan dan keresahan yang tidak perlu,” ujarnya.
Kapolres Sikka juga memberikan perhatian serius terhadap potensi penyebaran berita bohong di tengah situasi bencana. Menurutnya, hoaks bukan sekadar persoalan informasi yang salah, tetapi dapat menjadi persoalan sosial apabila dikonsumsi dan disebarluaskan secara masif tanpa verifikasi.
Kabar palsu mengenai gempa, misalnya, dapat membuat masyarakat mengambil tindakan yang tidak diperlukan, meninggalkan tempat secara panik, mempercayai prediksi yang tidak memiliki dasar ilmiah, ataupun menyebarkan informasi yang semakin memperbesar kecemasan warga lainnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang tidak jelas. Satu pesan yang tidak diverifikasi dapat berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan pesan dalam waktu singkat. Dalam kondisi seperti itu, kepanikan dapat menyebar jauh lebih cepat daripada informasi yang benar.
Kapolres Sikka menegaskan bahwa jajaran Kepolisian bersama unsur terkait akan terus berupaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta mendukung langkah-langkah penanganan bencana. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat, terutama dengan menjaga situasi tetap kondusif dan tidak memperkeruh keadaan melalui penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Penyebaran berita bohong atau hoaks dapat mengganggu proses penanganan bencana dan pada akhirnya merugikan masyarakat sendiri. Karena itu, mari kita bersama-sama menjaga ketenangan, memperkuat solidaritas, dan mengutamakan gotong royong dalam membantu sesama,” tegas AKBP BAMBANG SUPENO.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sikka untuk menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi situasi kebencanaan. Masyarakat tidak hanya dituntut untuk waspada terhadap potensi bencana, tetapi juga harus waspada terhadap informasi yang dapat memperburuk situasi.
Dalam kondisi seperti ini, kepedulian terhadap sesama menjadi jauh lebih penting daripada memperdebatkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Warga yang memiliki informasi resmi diharapkan dapat membantu menyampaikannya secara benar, sementara masyarakat yang menemukan informasi mencurigakan diminta tidak langsung mempercayai ataupun menyebarkannya.
Semangat gotong royong juga menjadi pesan penting yang disampaikan Kapolres Sikka. Situasi bencana, menurutnya, bukan momentum untuk saling menyalahkan, melainkan kesempatan untuk memperkuat kebersamaan, membantu warga yang membutuhkan, serta memastikan kelompok masyarakat yang rentan tidak menghadapi situasi sulit seorang diri.
Kapolres Sikka kembali mengingatkan bahwa ketenangan adalah kekuatan, kewaspadaan adalah kebutuhan, dan informasi yang benar adalah bagian dari keselamatan masyarakat.
Untuk itu, masyarakat Kabupaten Sikka diharapkan tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan hoaks, serta senantiasa mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.
Jangan biarkan hoaks membuat situasi semakin gaduh. Saring sebelum sharing, pastikan sebelum menyebarkan, dan jadikan keselamatan serta kepentingan masyarakat sebagai prioritas bersama.
Polri bersama pemerintah, TNI, dan seluruh elemen masyarakat akan terus menjaga situasi agar tetap aman dan kondusif. Kini, masyarakat pun memiliki peran yang sama pentingnya: tetap tenang, tetap waspada, dan bersama-sama melawan hoaks dengan informasi yang benar. [Cm24]


