Menyalakan Kembali Cita-Cita di Tengah Bencana, Polsek Paga Polres Sikka Sentuh Hati Pelajar Tana Wawo

Kegiatan psikoedukasi dan konseling yang dilaksanakan Kanit Binmas Polsek Paga di SMPN 048 Sa Ate Gaikiu merupakan bentuk nyata kepedulian Polri dalam memulihkan semangat dan kondisi psikologis siswa pasca bencana hidrometeorologi.

Menyalakan Kembali Cita-Cita di Tengah Bencana, Polsek Paga Polres Sikka Sentuh Hati Pelajar Tana Wawo
Sentuhan Psikoedukasi Polsek Paga Polres Sikka Polda NTT Bangkitkan Semangat Belajar Siswa Terdampak Bencana di Tana Wawo

Tribratanewssikka.com - Maumere, 23 Februari 2026 – Di tengah keterbatasan akibat bencana hidrometeorologi yang merusak bangunan sekolah, semangat belajar siswa SMPN 048 Sa Ate Gaikiu, Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo, kembali ditiupkan dengan energi baru. 

Senin (23/2/2026), suasana sekolah yang sederhana namun penuh harapan itu menjadi ruang tumbuh bagi motivasi dan pemulihan psikologis para pelajar.

Kanit Binmas/Kapospam Tana Wawo dari Polsek Paga, AIPTU Fransiskus Lister, hadir langsung memberikan psikoedukasi dan konseling kepada 52 siswa/i yang terdampak bencana. 

 

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.30 hingga 12.00 WITA tersebut bukan sekadar kunjungan formal, melainkan wujud nyata kepedulian Polri terhadap dunia pendidikan dan masa depan generasi muda di wilayah hukum Polres Sikka.

 

Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut tak hanya merusak bangunan fisik sekolah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas psikologis peserta didik. Dalam kondisi demikian, kehadiran aparat kepolisian dengan pendekatan humanis menjadi oase di tengah keterbatasan.

 

Dalam materinya, AIPTU Fransiskus Lister menekankan pentingnya menjaga semangat belajar meski dihadapkan pada situasi sulit. Ia mengajak para siswa untuk tidak menjadikan bencana sebagai alasan untuk menyerah, melainkan sebagai momentum untuk bangkit dan membuktikan ketangguhan diri.

 

“Keadaan boleh berubah, gedung boleh rusak, tetapi cita-cita tidak boleh runtuh,” demikian pesan motivasional yang disampaikan kepada para siswa dengan pendekatan dialogis dan persuasif.

 

Melalui psikoedukasi tersebut, siswa diajak memahami cara mengelola emosi, mengatasi rasa cemas, serta membangun kembali rasa percaya diri. Konseling dilakukan secara interaktif, memberi ruang bagi siswa untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka pasca bencana.

 

Selain membangun semangat belajar, kegiatan ini juga menjadi wahana edukasi karakter dan kesadaran hukum. Para siswa diarahkan untuk tetap menjaga kedisiplinan, menjauhi perilaku menyimpang, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan gotong royong di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

 

Polri, melalui fungsi Binmas, terus mendorong terciptanya kemitraan strategis antara kepolisian dan lembaga pendidikan. Sinergi ini diyakini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang berintegritas, sadar hukum, serta memiliki kecintaan terhadap institusi negara.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Tana Wawo, Yohanes Oriwis Ngaga Seso, S.Sos., Wakil Kepala SMPN 048 Sa Ate Gaikiu, Fransiskus Randis, S.Pd., para tenaga pendidik, staf sekolah, serta petugas pengamanan sekolah. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan dan pihak sekolah menegaskan bahwa pemulihan pasca bencana adalah tanggung jawab bersama.

 

Dalam kesempatan itu, pihak sekolah menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan Kapolda NTT atas perhatian dan bantuan berupa rencana pembangunan kembali sekolah, alat tulis, serta tenda Polri yang sangat membantu proses belajar mengajar sementara.

 

Wakil Kepala Sekolah, Fransiskus Randis, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan kehadiran Polri yang dinilai memberi dampak positif bagi mental dan motivasi siswa.

 

“Kami sangat berterima kasih. Anak-anak merasa diperhatikan dan kembali bersemangat. Ini bukan hanya tentang keamanan, tetapi tentang masa depan mereka,” ungkapnya.

 

Kegiatan psikoedukasi dan konseling ini berlangsung aman, tertib, dan lancar. Lebih dari itu, kegiatan ini mencerminkan wajah Polri yang humanis dan responsif terhadap dinamika sosial masyarakat.

 

Di tengah reruntuhan yang perlahan dibenahi, tumbuh keyakinan baru bahwa pendidikan tetap harus berjalan. Dan di antara keterbatasan fasilitas, harapan tetap berdiri kokoh—ditopang oleh kepedulian, kolaborasi, dan komitmen bersama.

 

Langkah kecil di ruang kelas sederhana itu menjadi pesan kuat: bahwa membangun generasi tangguh tidak hanya dilakukan dengan bata dan semen, tetapi juga dengan empati, motivasi, dan kehadiran nyata negara di tengah masyarakat. [Cm24]