Dari Daratan hingga Pulau Terluar, Polres Sikka Terus Bergerak Salurkan Bantuan bagi Korban Gempa
Rangkaian pendistribusian bantuan pascagempa di Kabupaten Sikka berjalan aman, lancar, dan tepat sasaran. Polri bersama unsur terkait menunjukkan respons nyata dengan menembus wilayah kepulauan dan pesisir untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi. Pergerakan logistik dari daratan hingga pulau-pulau terluar menegaskan komitmen negara untuk hadir, melindungi, dan membantu masyarakat di tengah situasi bencana.
Maumere, 7 September 2026. Tribratanewssikka.com — Bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores tidak hanya menyisakan kerusakan, tetapi juga menghadirkan tantangan besar dalam menjangkau masyarakat terdampak, terutama mereka yang bermukim di wilayah kepulauan dan pesisir Kabupaten Sikka.

Di tengah keterbatasan akses, Polri bergerak menembus laut. Bantuan logistik dikirim menggunakan kapal patroli untuk memastikan kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terdampak tidak terputus hanya karena jarak dan kondisi geografis.

Pada Minggu, 6 September 2026, kapal type C2 KP.P. Sukur 3007 milik Ditpolairud Polda NTT bertolak dari Dermaga Wuring, Maumere, sejak pukul 04.00 Wita. Misi kemanusiaan itu menyasar masyarakat pesisir Pulau Babi, Pulau Pangabatang hingga nelayan kecil yang masih beraktivitas di perairan Kabupaten Sikka.

Tiga jam kemudian, kapal tiba di pesisir Pulau Babi. Personel Ditpolairud Polda NTT bersama personel Polres Sikka dan masyarakat setempat bahu-membahu menurunkan bantuan. Sekitar pukul 08.00 Wita, bantuan diserahkan langsung kepada 10 warga terdampak gempa di pesisir Pulau Babi.

Bantuan yang dibawa bukan sekadar bahan pangan. Di dalamnya terdapat minyak goreng, air mineral, susu, mi instan, makanan ringan, popok bayi dan dewasa, teh, selimut hingga pakaian anak dan remaja.
Dari Pulau Babi, misi kemanusiaan berlanjut menuju Pulau Pangabatang. Sekitar pukul 09.40 Wita, KP.P. Sukur 3007 tiba di perairan Pangabatang. Personel bersama masyarakat kembali mengangkut paket bantuan dan menyerahkannya kepada warga terdampak. Bantuan kemudian dilanjutkan kepada nelayan kecil yang tengah beraktivitas di perairan Taka Jurang. Pukul 16.30 Wita, kapal kembali bersandar di Pelabuhan Wuring dengan selamat.
Namun, operasi kemanusiaan belum berhenti. Pada hari yang sama, kapal type C2 KP.P. Ndao 3009 milik Ditpolairud Polda NTT bergerak menuju Pulau Palue. Kapal berangkat dari Pelabuhan Wuring pukul 08.30 Wita membawa bantuan logistik Polri sekaligus bantuan dari Ibu Kapolri untuk masyarakat terdampak gempa.
Pukul 12.00 Wita, KP.P. Ndao 3009 tiba di wilayah Pulau Palue. Salah satu bantuan yang menjadi perhatian adalah satu unit genset 3.000 watt dan satu kompor gas, bantuan dari Ibu Kapolri untuk mendukung kebutuhan dasar serta operasional personel Polsubsektor Palue yang bertugas di wilayah kepulauan dengan keterbatasan listrik dan fasilitas dasar.
Bantuan kemudian bergerak ke pesisir Dusun Woja, Desa Lidi. Pukul 13.30 Wita, paket bantuan diserahkan secara simbolis kepada perwakilan masyarakat. Selanjutnya kapal bergerak menuju pesisir Dusun Nangaliwu, masih di Desa Lidi.
Setibanya di lokasi, personel Ditpolairud Polda NTT dan Satpolairud Polres Sikka kembali mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak. Pukul 14.30 Wita, bantuan diserahkan kepada perwakilan warga.
Dua operasi laut tersebut memperlihatkan satu pesan yang tegas: jarak bukan alasan untuk membiarkan masyarakat terdampak bencana menghadapi kesulitan seorang diri.
Dari Gudang ke Pulau, Rantai Bantuan Terus Bergerak. Sementara bantuan terus didorong ke wilayah kepulauan, jalur logistik di daratan juga diperkuat.
Pada Minggu siang, 6 September 2026, BPBD Kabupaten Sikka melakukan pendropingan bantuan logistik berupa sembako menuju Pulau Palue. Proses penerimaan dan pendistribusian bantuan mendapat pengamanan personel Polres Sikka berdasarkan Surat Perintah Kapolres Sikka Nomor: Sprin/343/VIII/Ops.2.1./2026 tanggal 31 Agustus 2026.
Pada Senin, 7 September 2026, pergerakan logistik kembali terlihat di Gudang Cosik, Jalan Litbang, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok. Kali ini, bantuan berasal dari Direktur Penanganan Darurat Wilayah III melalui PT Trans Lintas Selaras untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka. Sebanyak dua unit mobil box digunakan dalam proses pengangkutan bantuan.
Jumlah bantuan yang diterima pun tidak sedikit. Tercatat 15 unit toren air berkapasitas 310 liter, 150 dos air mineral, 120 dos bubur bayi, 16 koli paket sembako TNI, 185 dos mi instan, 219 dos biskuit, 200 dos biskuit malkist, 18 koli tikar, 20 koli minyak goreng, 13 koli gula pasir, 226 koli beras kemasan 5 kilogram, 92 dos pampers, 46 koli pembalut, 5 koli terpal, 2 koli sandal jepit serta 2 koli selimut.
Proses penerimaan bantuan tersebut dipimpin Kapolsek Alok AKP Putu Sumadi, S.H., dengan melibatkan personel Polres Sikka, Brimob Kompi B Pelopor serta unsur terkait lainnya.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada pengumpulan bantuan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
Bagi masyarakat kepulauan, bantuan tidak cukup hanya dikumpulkan di gudang. Bantuan harus menyeberangi laut, menghadapi jarak, cuaca dan keterbatasan akses. Di titik inilah kehadiran personel Polri menjadi penting.
Kapal patroli berubah menjadi sarana distribusi kemanusiaan. Dermaga menjadi titik awal perjuangan. Personel kepolisian tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi ikut mengangkat, mengangkut dan menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
Dari Pulau Babi hingga Pangabatang, dari perairan Taka Jurang hingga Desa Lidi di Pulau Palue, bantuan bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat.
Polri seolah ingin menegaskan bahwa dalam situasi bencana, negara tidak boleh berhenti di daratan. Negara harus hadir sampai ke titik terluar tempat rakyat berada.
Gempa memang dapat mengguncang tanah, merusak bangunan dan mengganggu aktivitas warga. Namun, respons cepat dan gotong royong menjadi kekuatan lain yang tidak kalah penting: memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan.
Dengan logistik yang terus masuk, distribusi yang terus bergerak, serta personel yang tetap berada di lapangan, penanganan pascagempa di Kabupaten Sikka terus menunjukkan denyutnya.
Laut boleh menjadi pemisah antarpulau. Bencana boleh menghadirkan keterbatasan. Tetapi kepedulian tidak boleh mengenal batas. Polri memilih untuk datang, menyeberang dan memastikan bantuan sampai. [Cm24]


