“Pulihkan Trauma Korban Gempa, Tim Psikologi Polda NTT dan Polres Sikka Hadir di Tengah Pengungsi Gelora Samador Maumere”
Kehadiran Tim Psikologi Polda NTT bersama Polres Sikka di Posko Pengungsian Gelora Samador Maumere menjadi langkah nyata dalam memulihkan trauma korban gempa, khususnya anak-anak. Melalui pendekatan humanis, edukatif, dan rekreatif, para pengungsi kembali memperoleh rasa aman, ketenangan, serta semangat untuk bangkit. Kegiatan ini menegaskan bahwa Polri hadir bukan hanya untuk mengamankan, tetapi juga merawat, menguatkan, dan memulihkan masyarakat di tengah bencana.
Maumere, 17 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah suasana pengungsian yang masih dibayangi kecemasan pascagempa bumi, kehadiran aparat kepolisian tidak berhenti pada pengamanan dan pelayanan darurat.

Di Lapangan Gelora Samador Maumere, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, pendekatan kemanusiaan menjadi bagian penting dari upaya memulihkan kembali semangat para korban bencana.

Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama jajaran Polres Sikka turun langsung menyapa para pengungsi melalui kegiatan trauma healing, Minggu (16/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para korban, khususnya anak-anak, untuk sejenak keluar dari bayang-bayang ketakutan dan kembali merasakan suasana bermain, tertawa, berkomunikasi, serta membangun rasa aman di tengah kondisi pengungsian.
Kegiatan pertama berlangsung sekitar pukul 13.40 Wita. Tim Psikologi Polda NTT hadir dengan pendekatan yang tidak formal dan tidak berjarak. Para pengungsi diajak berinteraksi melalui permainan, hiburan, komunikasi aktif, serta pemberian motivasi yang dikemas secara edukatif, rekreatif, dan humanis.
Bagi para korban bencana, pemulihan tidak semata-mata menyangkut kebutuhan fisik. Setelah sebuah bencana mengguncang kehidupan, rasa takut, kecemasan, kehilangan rasa aman, hingga tekanan emosional dapat membekas, terutama pada anak-anak. Karena itu, pemulihan psikologis menjadi bagian penting dalam proses bangkit dari situasi pascabencana.
Tim Psikologi Polda NTT yang terlibat dalam kegiatan tersebut dipimpin oleh Kasubbagpsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, bersama Bripka Naaking Ariance Kalla Blegur Kalla Wally, S.H., Briptu Barly Renaldy Lasa, S.Psi., Bripda Adrianus Agul, dan Bripda Kasmirus Meo.
Kehadiran tim tersebut turut didampingi Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., Kasubagdalpers Bag SDM Polres Sikka IPDA A. Rusyudi Mangge, S.Psi., KBO Satintelkam Polres Sikka IPDA Kurd Anyelus Zay, S.H., Kasi Humas Polres Sikka IPDA Leonardus Tunga, S.M., serta personel Bag SDM Polres Sikka.
Suasana pengungsian perlahan berubah. Pendekatan yang dilakukan tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi membangun kembali keberanian para korban untuk berinteraksi dan menatap situasi dengan lebih tenang.
Anak-anak yang sebelumnya berada dalam situasi penuh ketidakpastian mulai menunjukkan ekspresi berbeda. Mereka tampak lebih ceria, aktif, dan berani berkomunikasi. Rasa takut dan kecemasan yang muncul akibat pengalaman gempa berusaha dialihkan melalui aktivitas positif yang memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain dan mengekspresikan diri.
Sementara itu, para perempuan dan pengungsi lainnya juga terlihat lebih tenang mengikuti rangkaian kegiatan. Kehadiran petugas di tengah-tengah mereka menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bahwa para korban bencana tidak berjalan sendiri dalam menghadapi masa sulit tersebut.
Kegiatan kemudian berlanjut pada malam hari. Sekitar pukul 20.20 Wita, Polres Sikka bersama Tim Psikologi Polda NTT kembali mendatangi Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere. Kali ini, perhatian lebih diarahkan kepada anak-anak korban bencana gempa bumi.
Suasana malam di lokasi pengungsian dihidupkan dengan pemutaran tayangan film kartun atau serial anak. Anak-anak juga diajak berinteraksi secara aktif dengan personel kepolisian dan Tim Psikologi Polda NTT.
Langkah tersebut bukan sekadar menghadirkan tontonan bagi anak-anak. Di balik aktivitas sederhana itu terdapat upaya untuk menciptakan kembali ruang psikologis yang aman bagi mereka—ruang untuk tertawa, bermain, berbicara, dan merasakan kembali dunia anak-anak yang sempat terguncang oleh bencana.
Tim Psikologi Polda NTT yang sama kembali hadir dalam kegiatan malam tersebut. Pendampingan juga dilakukan oleh jajaran Polres Sikka, yakni Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., Kasat Reskrim Polres Sikka Iptu Reinhard Dionisius Siga, S.Tr.K., Kasubagdalpers Bag SDM Polres Sikka IPDA A. Rusyudi Mangge, S.Psi., KBO Satintelkam Polres Sikka IPDA Kurd Anyelus Zay, S.H., Kasi Humas Polres Sikka IPDA Leonardus Tunga, S.M., Aiptu Veronika Kolidin dari Satintelkam Polres Sikka, serta personel Bag SDM Polres Sikka.
Interaksi berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka mulai aktif berkomunikasi dengan petugas, mengikuti kegiatan dengan semangat, dan menikmati hiburan yang diberikan.
Bagi anak-anak korban bencana, kesempatan untuk bermain dan berekspresi memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Aktivitas tersebut menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian dari pengalaman traumatis sekaligus membantu mereka membangun kembali rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar.
Dari kegiatan tersebut terlihat perubahan positif. Anak-anak tampak lebih nyaman, aktif, dan berani berinteraksi. Suasana pengungsian yang sebelumnya sarat dengan ketegangan perlahan mendapatkan warna baru melalui tawa dan kegembiraan mereka.
Di situlah makna kehadiran Polri dalam penanganan bencana terlihat lebih utuh. Polisi bukan hanya hadir ketika situasi membutuhkan pengamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, penguatan mental, dan rasa aman.
Kehadiran Tim Psikologi Polda NTT bersama Polres Sikka sekaligus mempertegas bahwa penanganan pascabencana tidak boleh hanya berorientasi pada pemulihan sarana fisik. Pemulihan manusia—terutama anak-anak yang mengalami guncangan emosional—merupakan bagian yang tidak kalah penting.
Trauma tidak selalu terlihat. Ia bisa tersembunyi di balik diamnya seorang anak, ketakutan ketika mendengar suara keras, kecemasan saat merasakan getaran, atau keengganan untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Karena itu, pendekatan psikologis yang dilakukan sejak dini menjadi langkah penting agar pengalaman bencana tidak berkembang menjadi tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Melalui permainan, komunikasi, hiburan, dan motivasi, Tim Psikologi Polda NTT berupaya membuka kembali ruang optimisme bagi para korban. Sementara personel Polres Sikka memastikan kehadiran negara tetap terasa dekat dengan masyarakat yang sedang menghadapi masa paling sulit.
Pesan yang dibawa pun sederhana, tetapi kuat: bencana boleh mengguncang tempat tinggal dan kehidupan, tetapi semangat untuk bangkit tidak boleh ikut runtuh.
Di Gelora Samador Maumere, di tengah tenda-tenda pengungsian dan wajah-wajah yang masih menyimpan kecemasan, langkah kecil berupa permainan, percakapan, hiburan, dan senyuman menjadi bagian dari proses besar untuk memulihkan harapan.
Kehadiran Polri di tengah para pengungsi akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang datang dan apa yang dilakukan. Lebih dari itu, kehadiran tersebut menjadi simbol bahwa dalam situasi sesulit apa pun, masyarakat tetap memiliki tempat untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan kekuatan untuk kembali berdiri.
Kegiatan trauma healing berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi bagian dari komitmen Polda NTT dan Polres Sikka untuk memberikan pelayanan kemanusiaan secara menyeluruh kepada masyarakat terdampak bencana, sekaligus memastikan bahwa proses pemulihan tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik, tetapi juga hati, pikiran, dan harapan para korban. [Cm24]


