Polres Sikka Waspadai Ledakan Rabies, Puluhan Ribu Anjing Jadi Ancaman Nyata, Kesadaran Masyarakat Kunci Utama”

Ancaman rabies di Kabupaten Sikka masih sangat tinggi dan belum terkendali, ditandai dengan ribuan kasus positif, tingginya populasi anjing, serta rendahnya cakupan vaksinasi dan kesadaran masyarakat. Diperlukan langkah cepat, terpadu, dan tegas melalui peningkatan vaksinasi, pengendalian populasi hewan, serta peran aktif masyarakat guna mencegah meluasnya penyebaran dan potensi korban jiwa.

Polres Sikka Waspadai Ledakan Rabies, Puluhan Ribu Anjing Jadi Ancaman Nyata, Kesadaran Masyarakat Kunci Utama”
Kasus Rabies Melonjak di Sikka, Polres Desak Aksi Cepat dan Agresif”

Tribratanewssikka.com - Maumere, 15 April 2026 – Ancaman rabies di Kabupaten Sikka kian mengkhawatirkan. Data terbaru hingga April 2026 mencatat lonjakan signifikan dengan 3.006 spesimen hewan dinyatakan positif rabies, menandakan situasi yang tidak lagi bisa dianggap biasa, melainkan telah memasuki fase darurat kesehatan masyarakat.

Fakta ini terungkap dalam kegiatan koordinasi antara Unit Sosial Budaya Sat Intelkam Polres Sikka bersama Dinas Peternakan Kabupaten Sikka yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026) di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok.

 

Koordinasi yang dipimpin Kanit III Sat Intelkam Polres Sikka, Bripka Budi Prasetyo tersebut turut menggali kondisi riil di lapangan bersama Kepala Bidang Kewaspadaan Hewan, drh. Eus Keupung. Hasilnya mencerminkan satu hal: rabies di Sikka masih menjadi ancaman serius yang belum terkendali.

 

Sebaran kasus rabies diketahui telah menjangkau sejumlah desa, di antaranya Desa Done, Leguwoda, Bhera, Masabewa, hingga Runut. Wilayah-wilayah ini kini menjadi titik rawan penyebaran virus mematikan tersebut.

 

Tidak hanya itu, indikator lain mempertegas kondisi genting. Sepanjang tahun 2025 tercatat 68 kasus positif rabies, sementara dalam kurun waktu hanya dua bulan pada awal 2026 (Januari–Februari), telah terjadi 182 kasus gigitan hewan. Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.

 

Di sisi lain, populasi anjing di Kabupaten Sikka diperkirakan mencapai ±30.000 ekor, namun ironisnya, cakupan vaksinasi masih tergolong rendah. Kondisi ini menjadikan populasi hewan penular rabies (HPR) sebagai bom waktu epidemi yang sewaktu-waktu dapat meledak dan mengancam keselamatan masyarakat luas.

 

Pemerintah daerah sendiri tidak tinggal diam. Melalui instruksi Bupati Sikka, telah diberlakukan kebijakan penutupan wilayah atau lockdown hewan selama 90 hari di daerah terdampak. 

 

Langkah ini bertujuan untuk membatasi mobilitas hewan dan menekan laju penyebaran virus.Selain itu, upaya penanganan juga dilakukan melalui vaksinasi massal serta eliminasi selektif terhadap hewan yang terindikasi rabies. 

 

Namun demikian, berbagai kendala masih membayangi efektivitas penanganan di lapangan. Keterbatasan stok vaksin menjadi salah satu persoalan krusial. 

 

Saat ini tersedia 22.500 vial vaksin anti rabies, terdiri dari 10.000 vial bantuan pemerintah pusat dan 12.500 vial dari dukungan anggaran daerah. Jumlah ini dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi tingginya populasi HPR.

 

Tak hanya itu, masalah lain juga turut memperparah situasi, mulai dari rendahnya titer antibodi pasca vaksinasi, belum optimalnya sistem pelaporan berjenjang, hingga minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengendalian hewan peliharaan.

 

Di lapangan, masih banyak ditemukan anjing yang dilepasliarkan tanpa pengawasan, bahkan berkembang menjadi populasi liar yang sulit dikendalikan. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam program vaksinasi semakin mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menekan penyebaran rabies.

 

Padahal, upaya preventif terus dilakukan. Aparat bersama instansi terkait secara aktif memberikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap hewan berpotensi rabies, sekaligus memberikan edukasi terkait penanganan awal apabila terjadi gigitan.

 

Vaksinasi terhadap hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet juga terus digencarkan. Namun tanpa dukungan penuh dari masyarakat, langkah-langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memutus rantai penularan.

 

Situasi ini menjadi peringatan keras bahwa penanganan rabies di Kabupaten Sikka membutuhkan langkah yang lebih agresif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Peningkatan cakupan vaksinasi, pengendalian populasi hewan penular, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman ini.

 

Jika tidak ditangani secara serius dan cepat, bukan tidak mungkin rabies akan terus meluas, bahkan berpotensi menimbulkan korban jiwa. Di tengah kondisi tersebut, satu hal menjadi jelas: perang melawan rabies di Sikka belum usai—dan waktu tidak berpihak pada kelengahan. [Cm24]