Ribuan Umat Padati Ritapiret, Kapolsek Nita Pimpin Langsung Pengamanan Pentahbisan 16 Diakon
Kegiatan Misa Ekaristi Pentahbisan Diakon di Aula Saint Peter’s Hall ST. Petrus Interdiosesan Ritapiret berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh khidmat. Sebanyak 16 frater resmi ditahbiskan menjadi diakon dalam perayaan yang dipimpin Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dan dihadiri kurang lebih 2.000 umat. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar hingga
Tribratanewssikka.com - Maumere, 12 Juni 2026. Suasana khidmat menyelimuti Aula Saint Peter’s Hall Seminari Tinggi Santo Petrus Interdiosesan Ritapiret, Dusun Tour Orin Bao, Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Kamis (11/6/2026) sore.

Ribuan umat Katolik dari berbagai wilayah memadati lokasi untuk menyaksikan salah satu momentum penting dalam perjalanan Gereja Katolik, yakni Misa Ekaristi Pentahbisan Diakon, sebuah perayaan iman yang menandai lahirnya para pelayan baru gereja.
Perayaan sakral yang dimulai sejak pukul 15.00 WITA itu dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dalam suasana liturgi yang berlangsung penuh kekhidmatan, pengharapan, dan nuansa spiritual mendalam. Sebanyak 16 frater resmi ditahbiskan menjadi diakon, menapaki tahapan penting menuju panggilan imamat dalam tradisi Gereja Katolik.
Sejak siang hari, kawasan Seminari Tinggi ST. Petrus Interdiosesan Ritapiret telah dipenuhi umat, keluarga para calon diakon, rohaniwan-rohaniwati, para imam konselebran, serta tamu undangan yang datang dari berbagai daerah.
Diperkirakan sekitar 2.000 umat menghadiri perayaan tersebut, menjadikan momentum pentahbisan ini bukan hanya sebagai seremoni keagamaan, tetapi juga peristiwa iman yang mempertemukan keluarga besar Gereja dalam satu sukacita bersama.
Prosesi liturgi diawali dengan perarakan agung yang bergerak secara tertib dari halaman seminari menuju aula utama. Barisan panjang liturgi menghadirkan nuansa sakral yang begitu terasa, dimulai dari ceremoniarius, ajudan pembawa salib, lilin dan kemenyan, disusul para calon diakon yang berjalan berdampingan dengan orang tua masing-masing—sebuah simbol kuat tentang restu keluarga dalam perjalanan panggilan hidup membiara.
Di belakang mereka, para imam konselebran berjalan khidmat mengantar kehadiran uskup pentahbis, Mgr. Maksimus Regus, yang memimpin jalannya misa tahbisan. Iringan lagu pembuka yang dilantunkan koor menggema memenuhi ruangan, membangun atmosfer ibadah yang hening sekaligus penuh pengharapan.
Dalam ritus pembuka, umat diajak memasuki perayaan dengan doa tobat, pujian kemuliaan, serta pembacaan sabda yang mengantar seluruh peserta pada inti perayaan: upacara pentahbisan diakon.
Momen paling menyentuh terjadi ketika satu per satu calon diakon dipanggil maju ke hadapan uskup. Keenam belas frater berdiri dengan wajah penuh haru dan keteguhan, disaksikan keluarga yang tak mampu menyembunyikan rasa bangga. Dalam tradisi Gereja, tahbisan diakon bukan sekadar pengangkatan jabatan pelayanan, melainkan pernyataan totalitas pengabdian kepada Kristus dan umat.
Prosesi dilanjutkan dengan doa penyerahan dari orang tua, penerimaan para calon diakon, homili uskup, janji kesetiaan, Litani Para Kudus, hingga ritus inti berupa penumpangan tangan dan doa tahbisan oleh uskup pentahbis. Tahapan tersebut menjadi simbol resmi pencurahan rahmat tahbisan yang menandai perubahan status para frater menjadi diakon Gereja.
Kekhidmatan semakin terasa saat para diakon baru mengenakan stola dan dalmatik, busana liturgis khas diakon, sebelum menerima Injil dan Buku Ibadat Harian sebagai lambang tugas pewartaan sabda serta pelayanan kepada umat.
Tak berhenti di sana, mereka juga menerima penyerahan bahan persembahan berupa hosti dan anggur, sebagai simbol keterlibatan dalam pelayanan altar dan kehidupan sakramental Gereja. Rangkaian ritus pentahbisan kemudian ditutup dengan salam damai sebelum misa berlanjut pada Liturgi Ekaristi.
Di hadapan ribuan umat, perayaan berlangsung dalam suasana tertib dan penuh penghormatan. Nyanyian koor, doa-doa liturgis, serta keterlibatan umat menciptakan atmosfer religius yang kuat di dalam aula seminari yang menjadi saksi lahirnya para pelayan altar baru tersebut.
Pada sesi penutup, diumumkan maklumat tahbisan dan pemberian yurisdiksi, dilanjutkan sambutan dari Uskup Pentahbis Mgr. Maksimus Regus dan pihak Seminari Tinggi ST. Petrus Interdiosesan Ritapiret. Momentum tersebut menjadi peneguhan bahwa para diakon baru diharapkan menjadi pelayan Gereja yang rendah hati, setia, dan hadir di tengah umat dengan semangat pelayanan.
Di balik berlangsungnya kegiatan berskala besar tersebut, aspek keamanan turut menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Pengamanan kegiatan dipimpin langsung Kapolsek Nita, IPTU Yermi Y. B. Soludale, bersama personel Polsek Nita berdasarkan Surat Perintah Nomor: Sprin/24/VI/2026/Sek.Nita tanggal 10 Juni 2026. Aparat melakukan pemantauan dan pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar.
Monitoring kegiatan juga dilakukan oleh Kanit Intelkam Polsek Nita, AIPTU Abdul Rais, guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif selama berlangsungnya kegiatan keagamaan yang menghadirkan ribuan peserta tersebut.
Misa Pentahbisan Diakon akhirnya berakhir pada pukul 19.30 WITA dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif, sebelum kemudian dilanjutkan dengan acara perjamuan bersama dalam nuansa sukacita dan kebersamaan.
Lebih dari sekadar seremoni religius, Pentahbisan Diakon di Ritapiret kali ini menjadi penanda harapan baru bagi Gereja. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, lahirnya 16 diakon baru menjadi simbol bahwa panggilan pelayanan masih tumbuh subur—menegaskan bahwa Gereja tetap memiliki generasi penerus yang siap mengabdi, melayani, dan berjalan bersama umat. [Cm24]


