Panen Pertiwi di Lahan Terbatas: Dari Baopaat Sikka, Ketahanan Pangan Dibuktikan dengan Aksi Nyata
Kegiatan panen jagung hibrida di Desa Baopaat menunjukkan keberhasilan nyata program ketahanan pangan melalui kolaborasi BUMDes, kelompok tani, dan dukungan Polri, dengan hasil produktif meski di tengah keterbatasan lahan, serta berlangsung aman dan kondusif.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 5 Mei 2026 – Dari sebidang lahan yang tak luas, Desa Baopaat, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, menjawab tantangan dengan cara yang tegas: bekerja, menanam, dan akhirnya memanen.

Selasa (05/05/2026), di kebun milik BUMDes Baupuang, denyut ketahanan pangan itu terasa nyata saat jagung tongkol hibrida jenis Pertiwi dipanen dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WITA, aktivitas panen bukan sekadar rutinitas pertanian. Ia menjelma menjadi panggung kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan aparat kepolisian.
Di garis depan, Kanit Binmas Polsek Lela, AIPTU Siprianus Supardi, memimpin langsung jalannya kegiatan, menegaskan bahwa Polri hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai penggerak ketahanan pangan di tingkat akar rumput.
Di sisi lain, Bhabinkamtibmas Desa Baopaat, Tito Meltrisno Biaf, memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib. Kehadiran aparat di tengah ladang menjadi simbol kuat: keamanan dan kesejahteraan masyarakat adalah dua hal yang berjalan beriringan.
Panen ini merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak 6 Januari 2026. Dengan luas lahan sekitar satu hektar, BUMDes Baupuang di bawah kepemimpinan Direktur Maria Yosephina berhasil mengelola lahan secara produktif.
Dari tanah yang digarap dengan tekun, lahirlah hasil yang tidak bisa dianggap remeh—sekitar 3 ton jagung dalam sekali panen.Angka itu bukan sekadar statistik.
Dengan harga pasar jagung kering tongkol mencapai Rp5.000 per kilogram, panen ini menjadi suntikan ekonomi nyata bagi desa. Ia memperkuat daya tahan pangan sekaligus membuka ruang penguatan ekonomi berbasis lokal.
Namun keberhasilan ini tidak datang tanpa tantangan. Keterbatasan lahan menjadi persoalan klasik yang harus dihadapi. Di sinilah kecerdikan dan solidaritas masyarakat diuji.
BUMDes Baupuang mengambil langkah strategis dengan memanfaatkan lahan milik warga, Yulius Ardianus. Sebuah langkah sederhana, tetapi sarat makna—bahwa kolaborasi adalah kunci untuk menembus batas.
Kegiatan panen ini turut dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari Sekretaris Desa Baopaat, perwakilan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kepala Dusun Medat, hingga Kelompok Tani Boajoang yang diketuai oleh Maria Pona De Dores dengan lima anggota aktif.
Mereka bukan sekadar peserta, melainkan aktor utama dalam cerita keberhasilan ini. Di balik tumpukan jagung yang dipanen, tersimpan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Baopaat memberi pelajaran penting: ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lahan yang luas, tetapi dari niat yang kuat dan kerja yang konsisten.
Kegiatan berakhir pada pukul 11.45 WITA dalam situasi aman dan terkendali. Namun gaungnya tidak berhenti di sana. Dari Baopaat, pesan itu mengalir tegas—bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Jagung Pertiwi bukan hanya hasil panen, tetapi simbol perlawanan terhadap keterbatasan dan harapan akan masa depan yang lebih mandiri. [Cm24]


