Hari Kedua Pemulangan Pengungsi Gempa Sikka: 252 Jiwa Tinggalkan Posko Gelora Samador, 1.035 Jiwa Masih Bertahan
Pemulangan hari kedua pengungsi gempa Sikka berlangsung aman dan kondusif, dengan 87 KK/252 jiwa kembali ke rumah masing-masing secara sukarela dan mendapat bantuan sembako. Meski demikian, 278 KK/1.035 jiwa masih bertahan di Posko Gelora Samador, sehingga pemerintah tetap perlu memastikan keselamatan, akurasi data pengungsi, distribusi bantuan, serta pendataan kerusakan rumah selama masa tanggap darurat masih berlangsung.
Maumere, 25 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Pemerintah Kabupaten Sikka kembali memulangkan sebagian warga terdampak gempa bumi yang selama ini bertahan di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere, Senin (24/8/2026).

Memasuki hari kedua pelaksanaan pemulangan, sebanyak 87 kepala keluarga (KK) atau 252 jiwa diberangkatkan kembali menuju tempat tinggal masing-masing dengan dukungan sarana transportasi pemerintah dan unsur terkait.

Pemulangan tersebut berlangsung mulai pukul 16.00 Wita dari Posko Pengungsian Terpusat Bencana Alam Gempa Bumi di Gelora Samador, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sikka secara bertahap mengurangi konsentrasi pengungsi di posko terpusat sekaligus memfasilitasi warga yang secara mandiri telah menyatakan kesiapan untuk kembali ke rumah.
Kegiatan pemulangan dipimpin langsung oleh Kasatgas Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldas Da Maga Bapa, S.T., M.T., Eng, yang didampingi sejumlah unsur terkait, masing-masing perwakilan Kepala BNPB RI Ario Akbar Lomban, perwakilan Kepala BPBD Provinsi NTT Richard P.L. Pelt, S.E., serta Ketua Penerimaan dan Pengeluaran Barang Bantuan Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Verdinando Lepe, S.Sos.
Untuk mengangkut para pengungsi, dikerahkan tiga unit kendaraan truk milik Lanal Maumere, SAR Maumere, dan Satpol PP Kabupaten Sikka. Kendaraan tersebut membawa warga beserta barang-barang mereka meninggalkan kawasan posko untuk kembali menjalani kehidupan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Dengan kepulangan 87 KK atau 252 jiwa tersebut, jumlah warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador tercatat sebanyak 278 KK atau 1.035 jiwa.
Namun, pemulangan itu bukan sekadar persoalan memindahkan warga dari satu tempat ke tempat lain. Di balik setiap keberangkatan terdapat keputusan personal warga untuk kembali menghadapi situasi pascabencana, setelah sebelumnya memilih mengungsi demi keselamatan. Pemerintah pun menegaskan bahwa kepulangan dilakukan berdasarkan permintaan mandiri para pengungsi dan tanpa adanya paksaan.
Setiap warga yang dipulangkan juga telah melengkapi surat pernyataan kesediaan kembali ke rumah masing-masing. Hal ini dilakukan mengingat masa tanggap darurat bencana yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Sikka masih berlangsung.
Di tengah proses pemulangan tersebut, pemerintah tetap memastikan kebutuhan dasar warga tidak ditinggalkan. Setiap keluarga yang kembali mendapatkan satu paket bantuan sembako yang berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, satu dos air mineral, minyak goreng 1 liter, sarden, kornet, susu 400 gram, sejumlah jenis biskuit, serta lima bungkus mi instan.
Bantuan tersebut menjadi penyangga awal bagi keluarga yang kembali ke rumah setelah menjalani masa pengungsian. Pemerintah menyadari bahwa kepulangan tidak otomatis berarti seluruh persoalan selesai. Sebagian warga masih harus berhadapan dengan kondisi rumah, lingkungan, serta kebutuhan pemulihan pascabencana.
Karena itu, pemerintah meminta warga yang rumahnya mengalami kerusakan namun belum masuk dalam pendataan agar segera melapor kepada pemerintah kelurahan atau desa. Pendataan menjadi pintu penting agar kerusakan dapat diverifikasi dan warga memperoleh bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pesan kewaspadaan juga tetap menjadi bagian penting dalam proses pemulangan. Dalam penyampaiannya di hadapan para pengungsi, pihak Posko Tanggap Darurat mengapresiasi sikap warga yang telah menunjukkan kesiapsiagaan selama masa evakuasi dengan bersedia menempati posko terpusat. Warga juga diingatkan bahwa meskipun situasi telah berangsur kondusif, potensi gempa susulan dengan skala lebih kecil masih dapat terjadi.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, khususnya terkait isu logistik maupun perkembangan kebencanaan. Warga yang masih bertahan di posko juga didorong untuk secara bertahap kembali menjalankan aktivitas dan rutinitasnya sesuai kondisi serta arahan pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah tetap membuka ruang bagi warga yang ingin kembali ke rumah dengan menyediakan fasilitasi pemulangan. Dengan demikian, keputusan untuk pulang maupun tetap bertahan di posko dapat dilakukan secara sadar, terukur, dan mempertimbangkan kondisi masing-masing keluarga.
Pemerintah mencatat bahwa sebelumnya terdapat sejumlah warga yang meninggalkan Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador dan kembali ke rumah masing-masing tanpa terlebih dahulu melaporkan kepulangannya kepada petugas pendataan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksinkronan antara jumlah pengungsi yang tercatat pada awal pendataan dengan jumlah warga yang benar-benar masih berada di posko.
Dalam situasi tanggap darurat, persoalan data bukan perkara administratif semata. Data menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan distribusi logistik, bantuan, pelayanan kesehatan, kebutuhan transportasi hingga perencanaan penanganan lanjutan. Ketidaktepatan angka dapat berimplikasi langsung terhadap ketepatan sasaran bantuan.
Karena itu, setiap perpindahan warga dari posko menuju rumah masing-masing diharapkan tetap dilaporkan kepada petugas. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa tidak ada warga yang terlewat dalam sistem pendataan dan penanganan pascabencana.
Pemulangan hari kedua ini sekaligus memperlihatkan bahwa fase penanganan gempa Sikka mulai bergerak dari situasi evakuasi menuju tahap pemulihan secara bertahap. Akan tetapi, proses tersebut tetap membutuhkan kehati-hatian karena masa tanggap darurat belum berakhir.
Pemerintah Kabupaten Sikka pun masih menghadapi pekerjaan besar: memastikan keselamatan warga, menjaga ketersediaan bantuan, memutakhirkan data pengungsi, mendata kerusakan rumah, serta memastikan masyarakat yang kembali tidak berjalan sendirian menghadapi dampak bencana.
Di Gelora Samador, ratusan warga masih bertahan. Sementara itu, 252 jiwa telah lebih dahulu meninggalkan posko, membawa harapan untuk kembali menata kehidupan di rumah masing-masing.
Kepulangan bukan berarti bencana telah sepenuhnya usai. Ia adalah tanda bahwa masyarakat mulai mengambil kembali ruang hidupnya, dengan kewaspadaan yang tetap menyala. Seluruh rangkaian kegiatan pemulangan berlangsung aman, lancar, dan kondusif hingga berakhir sekitar pukul 21.00 Wita. [Cm24]


