Gempa Menyisakan Trauma, Polri Hadir Menguatkan Guru dan 600 Siswa SMPN 1 Maumere

Kegiatan trauma healing oleh Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan Bag SDM Polres Sikka menjadi wujud nyata kehadiran Polri dalam membantu memulihkan kondisi psikologis guru dan sekitar 600 siswa SMPN 1 Maumere pascagempa, sekaligus membangun kembali rasa aman, semangat, dan kepercayaan diri untuk bangkit dan melanjutkan proses belajar.

Gempa Menyisakan Trauma, Polri Hadir Menguatkan Guru dan 600 Siswa SMPN 1 Maumere
Pulihkan Trauma Pascagempa, Tim Psikologi Polri Dampingi 600 Guru dan Siswa SMPN 1 Maumere

Maumere, 4 September 2026. Tribratanewssikka.com — Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sikka pada 15 Agustus 2026 tidak hanya meninggalkan keretakan pada bangunan, tetapi juga menyisakan kecemasan dan trauma bagi para guru dan siswa. Di tengah kondisi tersebut, Polri hadir bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi ikut memulihkan kondisi psikologis warga terdampak.

Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka menggelar pendampingan psikologi dan trauma healing bagi guru serta sekitar 600 siswa dan siswi SMPN 1 Maumere, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.30 WITA di lokasi sementara SMPN 1 Maumere, Jalan Mawar, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Sekolah tersebut untuk sementara harus meninggalkan gedung utama setelah bangunannya mengalami keretakan akibat gempa dan dinilai tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan personel Bag SDM Polres Sikka.

 

Pendampingan tidak dilakukan dengan pendekatan formal semata. Para guru mendapatkan Terapi USEFT, sementara para siswa diajak bermain, berekspresi, dan mengikuti berbagai hiburan bersama. 

 

Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu mengurangi kecemasan, membangun kembali rasa aman, serta mengembalikan semangat belajar setelah mengalami situasi yang mengguncang secara fisik maupun psikologis.

 

Bagi para siswa, suasana sekolah yang berpindah ke lokasi sementara menjadi pengingat bahwa gempa telah mengubah rutinitas mereka. 

 

Karena itu, trauma healing menjadi bagian penting untuk memastikan dampak gempa tidak berlanjut menjadi beban psikologis yang mengganggu proses pendidikan. Polri memilih hadir di ruang yang lebih dekat dengan masyarakat: mendengar, mendampingi, dan membantu memulihkan.

 

Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian media nasional dalam meliput pelaksanaan trauma healing, termasuk aktivitas pendampingan dan testimoni guru maupun siswa. Setelah berlangsung lebih dari dua jam, seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 10.45 WITA. Kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar.

 

Langkah pendampingan psikologis ini menjadi bentuk nyata kehadiran Polri dalam penanganan dampak bencana—bahwa pemulihan pascagempa tidak berhenti pada perbaikan bangunan, tetapi juga menyentuh pemulihan rasa aman, mental, dan semangat generasi muda Sikka untuk kembali bangkit. [Cm24]