Di Ladang Nataweru, Polsek Nita Polres Sikka Buktikan Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Wacana
Panen raya jagung di Dusun Nataweru menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara aparat, pemerintah, dan petani mampu memperkuat ketahanan pangan dari tingkat desa. Melalui pemanfaatan lahan swadaya dan kolaborasi lintas sektor, hasil panen tidak hanya meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga mendukung stabilitas keamanan dan kemandirian pangan di wilayah Kecamatan Nita.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 8 Maret 2026 – Terik matahari yang menyengat di Dusun Nataweru, Desa Lusitada, Kecamatan Nita, Rabu (8/4/2026), tak menyurutkan semangat para petani.

Di tengah hamparan ladang seluas 3,5 hektar, bulir-bulir jagung menguning seolah menjadi simbol harapan—bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang tumbuh dari kerja keras dan kolaborasi nyata.

Hari itu bukan panen biasa. Ia menjelma menjadi momentum penting yang memperlihatkan bagaimana sinergi antara Polres Sikka, pemerintah, dan masyarakat mampu melahirkan kekuatan ekonomi berbasis desa.
Tepat pukul 10.00 WITA, jajaran pimpinan Kecamatan Nita hadir langsung di lokasi. Kapolsek Nita, IPTU Yermi Y. B. Soludale, memimpin kegiatan panen raya jagung hibrida varietas Bisi 18 bersama Kelompok Tani Lela Pigang.
Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan pesan kuat bahwa institusi kepolisian kini hadir lebih dekat dengan denyut kehidupan masyarakat—ikut menanam, merawat, hingga memanen harapan bersama warga.
Jagung yang dipanen merupakan hasil tanam sejak Desember 2025. Dalam rentang waktu sekitar empat bulan, para petani membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berproduksi.
Dengan memanfaatkan lahan milik anggota secara swadaya, Kelompok Tani Lela Pigang mampu mengoptimalkan potensi yang ada, meski di tengah tantangan ketersediaan lahan di Desa Lusitada.
Hasilnya pun tak mengecewakan. Berdasarkan data di lapangan, panen kali ini diperkirakan mencapai sekitar 2.077 kilogram atau setara 2,77 ton jagung tongkol basah.
Angka tersebut bukan hanya menunjukkan produktivitas yang menggembirakan, tetapi juga menjadi penopang penting bagi ketahanan pangan sekaligus penguatan ekonomi lokal di tengah dinamika harga komoditas yang kerap berfluktuasi.
Jagung-jagung itu bukan sekadar hasil panen. Ia adalah “emas kuning” yang lahir dari ketekunan, gotong royong, dan keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Kegiatan panen raya ini turut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan yang memberikan dukungan nyata terhadap sektor pertanian di wilayah tersebut.
Hadir di antaranya Camat Nita, Fransiskus Herpianus Nong Lalang, S.H., aparat desa, unsur kecamatan, hingga lini pembinaan masyarakat seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kanit Binmas, serta Bhabinkamtibmas.
Kehadiran lintas sektor ini menjadi gambaran konkret bahwa pembangunan pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan orkestrasi peran dari berbagai pihak—mulai dari pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat itu sendiri.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan, para petani, aparat, dan pejabat daerah berbaur tanpa sekat. Mereka tidak hanya memanen jagung, tetapi juga memanen hasil dari kolaborasi yang terbangun dengan kuat.
Kapolsek Nita IPTU Yermi Y. B. Soludale menegaskan bahwa keterlibatan pihak kepolisian dalam kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas yang lebih luas. Baginya, ketahanan pangan memiliki korelasi langsung dengan keamanan wilayah.
“Ketika kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, maka stabilitas sosial dan keamanan akan lebih mudah dijaga,” menjadi pesan yang tercermin dari kehadiran dan keterlibatan aktifnya di tengah para petani.
Pendekatan humanis yang ditunjukkan ini memperlihatkan wajah kepolisian yang adaptif—tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas persoalan mendasar masyarakat, termasuk di sektor pangan.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 14.00 WITA ini ditutup dalam suasana penuh kekeluargaan. Tumpukan jagung yang telah dipanen menjadi saksi keberhasilan kerja bersama, sementara canda tawa yang mengiringi proses panen mencerminkan eratnya hubungan antara aparat dan masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif. Tidak ada sekat antara yang memimpin dan yang dipimpin—yang ada hanyalah semangat gotong royong demi tujuan bersama.
Langkah yang dimulai dari Dusun Nataweru ini diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Sikka. Bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada peluang untuk tumbuh. Bahwa ketahanan pangan tidak harus dimulai dari skala besar, tetapi bisa berakar dari inisiatif kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dan dari ladang sederhana itu, sebuah pesan besar bergema: kedaulatan pangan dimulai dari desa, dari tangan-tangan petani, dan dari sinergi yang terjalin tanpa henti. [Cm24]


