Akses Pantura di Talibura Rawan Putus, Kapolsek Waigete Lakukan Pengecekan Lapangan
Akses Jalan Raya Jalur Pantura di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mengalami abrasi pada tiga titik dan berpotensi putus, namun saat ini masih dapat dilalui secara terbatas melalui jalan darurat. Polsek Waigete telah melakukan pengecekan langsung serta memberikan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat, dan pemantauan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak lanjutan serta menjaga keselamatan pengguna jalan.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 29 Januari 2026 — Akses Jalan Raya Jalur Pantura yang merupakan jalan provinsi dan menjadi urat nadi penghubung wilayah Kabupaten Sikka dengan Kabupaten Flores Timur bagian utara terancam terganggu akibat abrasi dan keretakan badan jalan. Menyikapi kondisi tersebut, Kapolsek Waigete bersama jajaran turun langsung ke lapangan untuk memastikan situasi sekaligus mengambil langkah antisipasi.
Pada Rabu, 28 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA, Kapolsek Waigete AKP I Wayan Artawan, S.H., didampingi Kanit Intelkam AIPDA Maleakhi Missa serta anggota Polsubsektor Nebe AIPDA Solihin dan BRIGPOL Yosefus Aprilianus, melaksanakan monitoring dan pengecekan langsung pada akses Jalan Raya Jalur Pantura di Dusun Wailamun, Desa Wailamun, serta Dusun Tanah Dewa, Desa Henga, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Dari hasil pengecekan di lapangan, petugas menemukan tiga titik lokasi jalan yang mengalami abrasi dan keretakan serius, sehingga kondisi badan jalan dinilai rawan dan berpotensi putus apabila terjadi hujan deras atau gelombang laut tinggi.
“Di sepanjang jalur ini terdapat tiga titik rawan, satu titik di Dusun Wailamun dan dua titik di Dusun Tanah Dewa. Saat ini jalan masih bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat, namun pengguna jalan harus sangat berhati-hati karena sebagian badan jalan sudah retak dan menyempit,” ujar Kapolsek Waigete di sela-sela pengecekan.
Adapun rincian kerusakan yang ditemukan di lapangan yakni: Lokasi pertama, di Dusun Wailamun, Desa Wailamun, mengalami abrasi dengan panjang sekitar 30 meter dan lebar kurang lebih 3 meter. Lokasi kedua, di Dusun Tanah Dewa, Desa Henga, dengan panjang abrasi sekitar 10 meter dan lebar sekitar 2 meter. Lokasi ketiga, juga di Dusun Tanah Dewa, Desa Henga, dengan panjang abrasi sekitar 7 meter dan lebar sekitar 2 meter.
Kerusakan tersebut menyebabkan sebagian badan jalan hanya tersisa satu lajur sempit. Warga setempat secara swadaya telah membuat jalan darurat agar arus lalu lintas tetap dapat berjalan, meskipun dalam kondisi terbatas.
Selain melakukan pengecekan fisik jalan, Kapolsek Waigete juga menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan warga, khususnya masyarakat pesisir Dusun Tanah Dewa. Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek memberikan imbauan kamtibmas terkait kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana lanjutan.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, agar selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut. Apabila cuaca buruk, sebaiknya tidak melaut demi keselamatan bersama. Warga yang tinggal di pesisir juga diminta tetap waspada terhadap gelombang laut dan abrasi,” tegasnya.
Kapolsek juga menegaskan bahwa apabila terjadi bencana atau situasi darurat, masyarakat diminta untuk segera melaporkan kepada pihak Kepolisian agar dapat dilakukan penanganan cepat dan tepat.
Hingga saat ini, jalur Pantura di wilayah tersebut masih dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat, namun dengan pembatasan kecepatan dan kehati-hatian ekstra. Pihak Kepolisian akan terus melakukan pemantauan situasi serta berkoordinasi dengan instansi terkait guna mencegah terjadinya gangguan lalu lintas maupun risiko keselamatan pengguna jalan.
Kegiatan monitoring ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat, sekaligus upaya preventif dalam mengantisipasi dampak bencana alam serta menjaga kelancaran mobilitas warga di jalur strategis Pantura Flores. [Cm24]


