Terapi USEFT Sentuh Mental dan Emosi Personel,; Polres Sikka Bekali 35 Bhabinkamtibmas Hadapi Tantangan Tugas

Kegiatan terapi USEFT yang digelar Polres Sikka dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 menjadi wujud nyata komitmen institusi dalam memperkuat kesehatan mental dan keseimbangan emosi personel Bhabinkamtibmas. Melalui pembinaan psikologis yang terarah, para peserta merasakan perubahan positif berupa hati yang lebih lega, pikiran lebih tenang, semangat kerja yang meningkat, dan kesiapan yang lebih baik untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara humanis, profesional, dan Presisi.

Terapi USEFT Sentuh Mental dan Emosi Personel,; Polres Sikka Bekali 35 Bhabinkamtibmas Hadapi Tantangan Tugas
Sentuh Ketahanan Mental Personel, Polres Sikka Gelar Terapi USEFT bagi 35 Bhabinkamtibmas untuk Bangun Emosi Positif demi Pelayanan Presisi kepada Masyarakat.

Maumere, 30 Juni 2026. Tribratanewssikka.com – Di balik tuntutan tugas yang semakin kompleks, seorang anggota Bhabinkamtibmas tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga ketahanan mental, kestabilan emosi, serta kesehatan psikologis yang prima. 

Menyadari pentingnya aspek tersebut, Polres Sikka melalui Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) menghadirkan sebuah pendekatan yang menyentuh sisi kemanusiaan personel dengan menggelar Ultimate The Source Body, Mind and Soul Emotional Freedom Technique (USEFT) sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, pukul 10.00 hingga 10.30 WITA, di Aula P.A. Tiwon Polres Sikka ini diikuti oleh 35 anggota Bhabinkamtibmas Polres Sikka. Program tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembinaan personel Polri tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan operasional, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental sebagai fondasi utama dalam membangun pelayanan yang profesional, humanis, dan Presisi.

 

Pelaksanaan terapi dipimpin oleh AKP Susanto, S.E. selaku Ketua Tim, didampingi IPDA Rusyudi Mangge, S.Psi. sebagai praktisi sekaligus terapis USEFT, bersama AIPDA Herry Ariawan yang turut memberikan pendampingan selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

 

Sejak awal kegiatan, para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, jiwa, dan emosi. Tim terapi menjelaskan bahwa setiap anggota kepolisian, khususnya Bhabinkamtibmas yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat, menghadapi berbagai dinamika sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis apabila tidak dikelola dengan baik.

 

Tekanan pekerjaan, penyelesaian konflik di tengah masyarakat, pelayanan publik yang menuntut kesabaran tinggi, hingga tanggung jawab menjaga situasi keamanan dan ketertiban merupakan bagian dari tantangan yang berpotensi menimbulkan kelelahan emosional. Oleh karena itu, terapi USEFT diperkenalkan sebagai salah satu metode untuk membantu peserta mengenali, mengelola, dan meredakan tekanan psikologis melalui latihan yang memadukan relaksasi, afirmasi, dan teknik stimulasi titik-titik tertentu pada tubuh.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi perkenalan yang bertujuan membangun kedekatan antara terapis dan peserta, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai filosofi dan manfaat USEFT dalam menjaga kesehatan mental. 

 

Peserta diajak memahami bahwa pikiran positif dan emosi yang stabil memiliki pengaruh besar terhadap kualitas pengambilan keputusan, kemampuan berkomunikasi, hingga profesionalisme dalam menjalankan tugas kepolisian.

 

Suasana Aula P.A. Tiwon kemudian berubah menjadi ruang refleksi. Seluruh peserta mengikuti latihan awal berupa pengenalan titik sore spot, teknik tapping pada 17 titik energi tubuh, serta latihan looking and feeling yang menjadi bagian penting dalam metode USEFT. 

 

Sebelum terapi dimulai, para peserta terlebih dahulu menyatakan kesediaan mengikuti seluruh proses sebagai bentuk komitmen untuk membuka diri terhadap proses penguatan mental dan emosional.

 

Pada sesi inti, para anggota diminta memejamkan mata sambil memegang titik sore spot dan mengikuti arahan terapis. Dengan penuh konsentrasi, peserta diajak mengidentifikasi berbagai beban emosional yang pernah dialami, mulai dari rasa cemas, lelah, kecewa, marah, takut, hingga tekanan psikologis yang muncul akibat dinamika pekerjaan maupun persoalan pribadi.

 

Selanjutnya, peserta melakukan gerakan tapping secara serempak pada 17 titik energi tubuh sambil mengucapkan afirmasi yang dipandu oleh terapis. "Saya niatkan untuk membuang semua emosi negatif ini."

 

Kalimat afirmasi tersebut menjadi simbol pelepasan berbagai beban emosional yang selama ini tersimpan dalam diri peserta. Setiap ketukan pada titik-titik energi diiringi dengan harapan agar pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih lapang, dan tubuh kembali berada dalam kondisi yang seimbang.

 

Setelah tahapan pelepasan emosi negatif selesai, terapi dilanjutkan dengan proses charging, yaitu mengisi kembali kondisi mental peserta dengan energi positif. Dalam sesi ini, para anggota diajak menanamkan nilai-nilai optimisme, rasa syukur, keikhlasan, ketulusan, keberanian, semangat pengabdian, serta keyakinan untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

 

Tidak berhenti di situ, tim terapi juga mengajarkan teknik relaksasi melalui pengaturan napas. Para peserta diarahkan menarik napas secara perlahan, menghembuskannya dengan tenang, lalu pada hitungan ketiga menahan napas selama enam hitungan sebelum kembali menghembuskannya. Latihan sederhana tersebut bertujuan membantu menurunkan ketegangan, meningkatkan konsentrasi, dan mengembalikan keseimbangan tubuh serta pikiran.

 

Tahapan berikutnya adalah latihan looking and feeling, yakni mengetuk titik pada sela jari manis dan telunjuk sambil melakukan berbagai gerakan mata, bergumam lagu Happy Birthday sebanyak tiga kali, hingga melakukan gerakan eye rolling sebagai bagian dari sinkronisasi kerja otak, emosi, dan tubuh.

 

Sebagai penutup, dua orang anggota Bhabinkamtibmas diminta menyampaikan testimoni mengenai perubahan yang mereka rasakan setelah mengikuti terapi. Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa proses yang dijalani tidak sekadar berupa latihan fisik, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk melepaskan tekanan emosional yang selama ini mungkin tidak pernah diungkapkan.

 

Hasil terapi menunjukkan perubahan yang dirasakan hampir seluruh peserta. Mereka mengaku hati menjadi lebih lega, pikiran terasa lebih tenang, tubuh lebih rileks, muncul kembali semangat dalam bekerja, perasaan lebih bahagia, dan beban emosional yang sebelumnya dirasakan berangsur berkurang. Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan personel dalam menghadapi berbagai tantangan tugas di lapangan.

 

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar. Di akhir kegiatan, perwakilan anggota Bhabinkamtibmas menyampaikan apresiasi kepada Bagian SDM Polres Sikka atas inisiatif menghadirkan layanan terapi USEFT yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi kesehatan mental personel.

 

Pelaksanaan terapi ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi Polri menuju institusi yang modern dan Presisi tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan teknologi, kompetensi, maupun kemampuan operasional, tetapi juga melalui pembangunan kualitas sumber daya manusia yang sehat secara fisik, kuat secara mental, dan matang secara emosional.

 

Momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat harus ditopang oleh personel yang memiliki hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan semangat yang terus menyala. Dari ruang sederhana di Aula P.A. Tiwon Polres Sikka, lahir sebuah ikhtiar untuk membangun polisi yang tidak hanya tangguh menghadapi tantangan tugas, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan diri, sehingga kehadirannya benar-benar menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang humanis, profesional, serta dipercaya publik. [Cm24]