“Senja Menyapa Palue, Polri Tetap Bergerak: Bantuan dan Harapan Terus Menjangkau Korban Gempa”
Di tengah senja yang mulai turun, langkah kemanusiaan Polri dan Bhayangkari Peduli tak surut. Bantuan logistik terus didistribusikan hingga menjangkau warga terdampak gempa di Kampung Sembilan, Palue, sebagai bukti bahwa Polri hadir, peduli, dan tidak membiarkan masyarakat menghadapi bencana seorang diri.
Maumere, 28 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Ketika senja mulai turun dan sebagian warga mulai bersiap menghadapi malam, langkah kemanusiaan justru belum berhenti di Palue.

Dari Posko Polri dan Bhayangkari Peduli, bantuan kembali bergerak menuju titik yang membutuhkan. Bukan menuju kawasan yang mudah dijangkau, melainkan ke Kampung Sembilan, Dusun Natahabi, Desa Lidi, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, tempat masyarakat masih bergulat dengan dampak gempa bumi.
Pada Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 16.30 Wita, jajaran Polres Sikka kembali menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, kepedulian tidak boleh hanya menjadi slogan. Bantuan harus diantar, didistribusikan, dan dipastikan sampai ke tangan masyarakat.
Dari posko, logistik berupa kebutuhan pokok diberangkatkan menuju Kampung Sembilan. Gerakan itu dipimpin langsung oleh Wakapolres Sikka, Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., bersama personel Polres Sikka yang tergabung dalam tim berdasarkan Surat Perintah Tugas Nomor Sprin/342/VIII/OPS.2.1./2026.
Di sana, polisi tidak datang sekadar membawa seragam dan kewenangan. Mereka datang membawa kebutuhan hidup masyarakat yang sedang berada dalam situasi sulit. Bantuan tersebut merupakan dukungan dari DUDAS-1 (Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Penonton Trans Entertainment) yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kecamatan Palue.
Bencana sering kali memperlihatkan satu kenyataan yang tidak bisa disembunyikan: kebutuhan masyarakat tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk memenuhinya sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, bantuan menjadi urat nadi. Karena itu, pendistribusian tidak berhenti di posko. Bantuan harus bergerak lebih jauh, menuju kampung-kampung tempat warga menunggu uluran tangan.
Tim Polres Sikka membawa sejumlah kebutuhan pokok. Sebanyak 20 karung beras ukuran 10 kilogram disiapkan untuk masyarakat. Kemudian 15 dos mi Sedap goreng dan 15 dos mi Sedap kuah, menjadi tambahan bahan pangan yang dapat langsung dimanfaatkan keluarga penerima. Ada pula 12 ikat telur, 15 dos minyak Lavenia, serta 30 dos air minum Nursa.
Bantuan juga menyentuh kebutuhan tempat berlindung. Sebanyak sembilan lembar terpal turut dibawa. Di tengah situasi pascagempa, benda yang tampak sederhana itu memiliki arti besar bagi warga yang membutuhkan perlindungan dari panas, hujan, dan kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Tidak hanya kebutuhan pangan dan perlengkapan tempat tinggal, perhatian juga diberikan kepada anak-anak dan kelompok rentan. Sebanyak satu dos biskuit Gabin, lima pcs susu SGM, satu dos susu Clevo, satu dos pampers ukuran L dan satu dos pampers ukuran M ikut didistribusikan.
Daftar itu memang terlihat seperti deretan angka. Namun bagi warga yang sedang menghadapi bencana, angka-angka tersebut menjelma menjadi kebutuhan nyata: makanan untuk keluarga, air untuk diminum, susu untuk anak, pampers untuk bayi, dan terpal untuk tempat berlindung.
Polisi Tidak Hanya Menjaga, tetapi Ikut Memikul Beban. Kehadiran jajaran Polres Sikka dalam distribusi tersebut memperlihatkan wajah lain dari tugas kepolisian di tengah bencana. Ketika keadaan normal, polisi dikenal sebagai penjaga keamanan dan ketertiban. Namun ketika bencana datang dan kehidupan masyarakat terguncang, tugas itu berkembang menjadi kerja kemanusiaan.
Polisi harus berada di tengah masyarakat. Mendengar keluhan. Melihat kebutuhan. Mengawal bantuan. Dan memastikan masyarakat yang terdampak tidak merasa ditinggalkan. Dalam kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas Desa Reruwairere, Bripka Januarius M.P. Mbasa, turut terlibat bersama personel Polres Sikka lainnya.
Masyarakat Kampung Sembilan, Dusun Natahabi, Desa Lidi, menjadi bagian penting dari proses distribusi tersebut. Satu unit mobil dinas Polri Polres Sikka digunakan untuk membawa bantuan menuju lokasi. Tidak ada kemewahan dalam perjalanan itu. Yang ada adalah tugas dan tanggung jawab untuk memastikan logistik bergerak dari tempat penyimpanan menuju masyarakat yang menjadi sasaran.
Di tengah bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan makanan. Mereka juga membutuhkan kepastian bahwa masih ada yang peduli. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ketika rumah, fasilitas, atau sumber penghidupan mereka terguncang, mereka tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.
Di titik itulah bantuan memiliki makna yang lebih dalam. Satu karung beras bukan hanya beras.Ia adalah kesempatan bagi sebuah keluarga untuk tetap makan. Satu dos air minum bukan sekadar kemasan. Ia adalah kebutuhan dasar untuk bertahan. Sembilan lembar terpal bukan hanya lembaran penutup.Ia adalah perlindungan ketika tempat tinggal belum sepenuhnya aman dan nyaman.
Begitu pula susu dan pampers. Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil, bantuan tersebut bukan pelengkap, tetapi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Karena itu, pendistribusian bantuan ke Kampung Sembilan menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ia menjadi bentuk konkret kepedulian kepada masyarakat yang sedang berada di garis depan menghadapi dampak bencana.
Tak Berhenti Sebelum Bantuan Sampai. Waktu terus bergerak. Senja beranjak ke malam, namun proses pendistribusian tetap dilakukan hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai pada pukul 19.10 Wita.
Ada pesan kuat di balik perjalanan tersebut: bantuan tidak boleh berhenti di tempat yang mudah dijangkau, sementara masyarakat di pelosok masih menunggu. Karena korban bencana tidak mengenal batas wilayah, demikian pula kepedulian tidak boleh mengenal jarak.
Kampung Sembilan menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian. Bantuan dari para donatur bergerak melalui tangan Polri dan Bhayangkari untuk kemudian diserahkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Inilah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya. Tidak banyak bicara. Tidak menunggu sorotan. Tetapi bergerak ketika masyarakat membutuhkan.
Palue dan Pesan yang Tak Boleh Hilang. Gempa bumi mungkin dapat mengguncang tanah. Namun kepedulian tidak boleh ikut runtuh. Di Palue, kerja kemanusiaan menjadi pengingat bahwa penanganan bencana bukan hanya persoalan membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga menjaga agar semangat masyarakat tetap hidup.
Bantuan yang datang dari para donatur adalah bentuk solidaritas. Polri yang mengantarkannya adalah bentuk pengabdian. Dan masyarakat yang menerimanya adalah alasan mengapa seluruh proses itu harus dilakukan.
Dari Posko Polri dan Bhayangkari Peduli, bantuan bergerak menuju Kampung Sembilan. Menembus jarak. Mengejar waktu. Mengantar kebutuhan. Sekaligus membawa pesan yang jauh lebih besar daripada isi setiap karung dan kardus yang dibawa: bahwa di tengah bencana, masyarakat Palue tidak berdiri sendirian.
Polri hadir bukan sekadar sebagai penjaga keamanan, tetapi sebagai bagian dari kekuatan kemanusiaan yang ikut berdiri bersama masyarakat ketika keadaan sedang tidak mudah. Dan ketika malam akhirnya turun di Palue, satu pekerjaan kemanusiaan telah dituntaskan. Bantuan telah bergerak. Masyarakat telah dijangkau. Harapan telah kembali diketuk dari pintu ke pintu. Sebab dalam situasi bencana, negara tidak boleh hanya terlihat dari kejauhan. Negara harus hadir, berjalan bersama rakyat, dan memastikan tidak ada satu pun warga yang merasa dilupakan. [Cm24]


