"Saat Petani Berjuang Melawan Cuaca dan Harga Pupuk, Polres Sikka Hadir Menguatkan Ketahanan Pangan".
Kegiatan monitoring dan pendampingan yang dilakukan jajaran Polres Sikka menunjukkan komitmen Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Melalui kehadiran langsung di tengah petani, Polri tidak hanya memberikan motivasi dan edukasi, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas pertanian serta penguatan kelembagaan kelompok tani. Meski masih menghadapi kendala seperti mahalnya pupuk dan cuaca yang tidak menentu, semangat petani untuk terus berproduksi menjadi modal penting dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan masyarakat.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 19 Juni 2026 – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian, mulai dari tingginya harga pupuk hingga cuaca yang tidak menentu, harapan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional terus tumbuh dari lahan-lahan pertanian milik masyarakat. Harapan itu tampak nyata dalam aktivitas yang dilakukan jajaran Polres Sikka melalui fungsi Binmas yang secara konsisten hadir mendampingi para petani, memberikan motivasi, sekaligus memastikan program ketahanan pangan yang menjadi prioritas pemerintah dapat berjalan hingga ke tingkat desa dan kelurahan.

Kamis (18/6/2026), dua kegiatan berbeda namun memiliki tujuan yang sama berlangsung di wilayah Kabupaten Sikka. Di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Bhabinkamtibmas AIPDA Hironimus Taji Werang melakukan monitoring lahan hortikultura milik warga. Sementara di Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kanit Binmas Polsek Nita AIPDA Fransiskus Hubertus menghadiri panen raya cabe yang dikelola Kelompok Tani BUMDes Mitan Gita.

Kehadiran anggota Polri di tengah para petani tersebut bukan sekadar menjalankan tugas rutin. Lebih dari itu, menjadi wujud nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, sekaligus memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan dari tingkat akar rumput.
Di Kelurahan Wolomarang, AIPDA Hironimus Taji Werang mengunjungi lahan pertanian milik Jonas Z. Sanang yang berlokasi di RT 026/RW 005. Lahan berukuran sekitar 20 x 30 meter itu dimanfaatkan secara produktif untuk membudidayakan berbagai tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti melon, cabai keriting, dan cabai rawit.
Dengan menggunakan pupuk Urea, NPK dan KCL serta perawatan intensif melalui penggunaan pestisida, pemilik lahan terus berupaya menjaga produktivitas tanamannya. Namun perjuangan petani tidak selalu berjalan mulus. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan tanaman melon mengalami gagal panen, sehingga berdampak langsung terhadap hasil produksi dan pendapatan petani.
Tidak hanya itu, persoalan klasik berupa keterbatasan pupuk juga masih menjadi tantangan yang dihadapi petani mandiri. Sulitnya memperoleh pupuk subsidi memaksa petani membeli pupuk non-subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal, sehingga meningkatkan biaya produksi.
Menyikapi kondisi tersebut, AIPDA Hironimus memberikan motivasi kepada pemilik lahan agar tetap semangat dan tidak menyerah menghadapi berbagai kendala. Ia juga mendorong petani untuk berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) guna membentuk kelompok tani yang nantinya dapat memperoleh akses lebih luas terhadap bantuan pemerintah berupa bibit unggul, pupuk maupun sarana produksi pertanian lainnya.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang hasil panen, tetapi juga tentang ketangguhan petani dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di lapangan.
Sementara itu, semangat optimisme terlihat jelas di Desa Takaplager, Kecamatan Nita. Setelah melalui proses budidaya dan perawatan yang panjang, Kelompok Tani BUMDes Mitan Gita berhasil memanen cabe bara yang ditanam pada lahan seluas sekitar 0,3 hektare.
Panen raya tersebut menjadi momentum penting sekaligus bukti bahwa kerja keras, kedisiplinan dalam perawatan tanaman, serta pengelolaan kelompok yang baik mampu menghasilkan produktivitas pertanian yang menjanjikan.
Kegiatan panen dihadiri Camat Nita Fransiskus Nong Lalang, SH, Sekretaris Camat Nita, Penjabat Kepala Desa Takaplager Hendrikus Raga, SIP, Kanit Binmas Polsek Nita AIPDA Fransiskus Hubertus, Ketua BUMDes Mitan Gita Yohanes Aris, anggota kelompok tani, serta perangkat desa setempat.
Dalam kesempatan itu, AIPDA Fransiskus Hubertus menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota kelompok tani yang telah berhasil mengelola lahan hingga memasuki masa panen. Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan kontribusi nyata masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan yang saat ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat kerja, meningkatkan kualitas perawatan tanaman, serta melakukan pengawasan terhadap kebun agar produktivitas dapat terus ditingkatkan pada musim tanam berikutnya. Tidak kalah penting, pengurus kelompok tani diminta untuk mengedepankan prinsip transparansi dalam pengelolaan keuangan dan hasil panen guna menjaga kepercayaan seluruh anggota kelompok.
Pesan tersebut mendapat respons positif dari para petani yang menyatakan siap bersinergi dengan Bhabinkamtibmas dan pemerintah dalam mendukung keberlanjutan program ketahanan pangan di wilayah Kecamatan Nita.
Dua potret yang terjadi pada hari yang sama di wilayah Kabupaten Sikka itu menggambarkan wajah pertanian yang sesungguhnya. Di satu sisi terdapat petani yang sedang berjuang menghadapi gagal panen akibat cuaca ekstrem dan tingginya biaya produksi. Di sisi lain terdapat kelompok tani yang berhasil memetik hasil dari kerja keras mereka melalui panen raya cabe. Namun keduanya memiliki kesamaan, yakni semangat untuk terus bertahan dan berproduksi demi menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, Polres Sikka menunjukkan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya dilakukan melalui patroli dan penegakan hukum, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya urusan sektor pertanian semata, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa.
Di tengah berbagai tantangan yang terus mengemuka, langkah-langkah kecil yang dilakukan dari kebun-kebun rakyat di Wolomarang dan Takaplager menjadi bukti bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan nasional sesungguhnya sedang dibangun dari desa, oleh masyarakat, dengan dukungan penuh dari negara melalui kehadiran Polri di tengah-tengah mereka. [Cm24]


