“Polri Tak Biarkan Palu’e Sendirian, KP KASTURI 6002 Menembus Laut Bawa 15 Ton Bantuan Kemanusiaan”
Keberangkatan KP. KASTURI 6002 menuju Pulau Palu’e menjadi bukti nyata kehadiran dan kepedulian Polri terhadap masyarakat terdampak gempa. Membawa sekitar 15 ton bantuan logistik serta tim trauma healing, misi kemanusiaan ini diharapkan mampu meringankan beban warga sekaligus mempercepat pemulihan, baik secara kebutuhan dasar maupun psikologis. Polri hadir, bukan sekadar mengawal keamanan, tetapi berdiri bersama masyarakat di tengah bencana.
Maumere, 27 Agustus 2026 — Laut malam belum sepenuhnya terlelap ketika mesin Kapal Polisi (KP) KASTURI 6002 mulai bersiap meninggalkan Dermaga L. Say Maumere. Kamis dini hari, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 00.10 Wita, kapal kepolisian itu bertolak menuju Pulau Palu’e, Kabupaten Sikka, membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah pelayaran.

Di lambung kapal itu tersimpan bantuan kemanusiaan dengan total berat diperkirakan mencapai ±15 ton. Beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, susu, makanan ringan, selimut hingga pakaian anak dikemas dan diangkut untuk menjangkau masyarakat yang sedang berhadapan dengan dampak bencana gempa bumi.
Namun yang berlayar malam itu bukan hanya berton-ton logistik. Yang ikut menyeberangi laut adalah kepedulian. Yang dibawa menuju Palu’e adalah pesan bahwa masyarakat yang sedang tertimpa bencana tidak ditinggalkan sendirian.
KP. KASTURI 6002 menjadi kendaraan bagi sebuah misi kemanusiaan yang mempertemukan kekuatan kepolisian dengan kebutuhan warga di wilayah kepulauan. Di tengah karakter geografis NTT yang dipisahkan laut dan jarak, perjalanan tersebut menjadi simbol nyata kehadiran negara yang harus mampu mencapai masyarakat hingga ke wilayah yang paling membutuhkan.
Beberapa menit sebelum tengah malam, tepatnya Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 23.45 Wita, KP. KASTURI 6002 telah berada dalam posisi persiapan keberangkatan di Dermaga L. Say Maumere. Kapal tersebut kemudian meninggalkan dermaga pada Kamis, 27 Agustus 2026 pukul 00.10 Wita dengan tujuan Pulau Palu’e.
Pelayaran berlangsung dalam kondisi cuaca yang dilaporkan cerah. Gelombang berada pada kisaran 0,5 hingga 1 meter, sementara angin barat bertiup sekitar 5 knot. Kondisi laut relatif mendukung, meski keselamatan dan kewaspadaan tetap menjadi perhatian utama sepanjang perjalanan.
Dalam kegelapan malam, kapal bergerak menuju Palu’e dengan satu tujuan utama: mengantarkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di saat sebagian besar masyarakat telah beristirahat, puluhan personel justru berada di atas kapal dalam sebuah perjalanan kemanusiaan. Mereka membawa logistik, tenaga, perhatian dan harapan.
Besarnya bantuan yang diangkut KP. KASTURI 6002 menunjukkan bahwa misi tersebut dipersiapkan secara serius. Sedikitnya 184 karung beras ukuran 5 kilogram dan 136 karung beras ukuran 3 kilogram menjadi bagian dari logistik utama. Jika dihitung secara kasar, beras saja mencapai lebih dari satu ton dan menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat terdampak bencana.
Bantuan kemudian diperkuat dengan berbagai jenis makanan siap konsumsi. Tercatat 381 dos Mie Sedaap, 704 dos Indomie Soto, 549 dos Indomie Goreng, 186 dos Pop Mie dan 88 dos Eko Mie ikut memenuhi ruang angkut kapal.
Air minum juga menjadi bagian penting dalam misi tersebut. Sebanyak 72 dos air Como ukuran 1.500 mililiter, 178 dos Aqua ukuran 1.500 mililiter serta 586 dos air mineral ukuran 330 mililiter turut dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Tidak berhenti pada pangan dan air, bantuan juga mencakup makanan pelengkap serta kebutuhan rumah tangga, di antaranya Gery, Kelapa Ijo, Hatari, Gowel, Tos, Roma Kelapa, minyak goreng, Daia dan Indomilk. Ada pula 260 lembar selimut dan empat koli pakaian anak serta piyama. Seluruh bantuan tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 15 ton.
Angka itu bukan sekadar jumlah dalam manifest. Di balik setiap karung beras terdapat kebutuhan keluarga. Di balik setiap dos air terdapat kebutuhan warga yang terdampak. Di balik selimut dan pakaian anak terdapat upaya untuk mengembalikan sedikit rasa nyaman kepada mereka yang sedang menghadapi situasi sulit.
Misi KP. KASTURI 6002 memiliki dimensi yang lebih luas karena kapal tersebut tidak hanya mengangkut bantuan material. Sejumlah personel yang tergabung dalam Tim Trauma Healing Polda NTT turut dalam perjalanan. Mereka terdiri dari Kompol Prasetyo Dwilaksono, Bripda Naaking Blegur, Briptu Barli Renaldi Lasa, Bripda Irvan Sone, Bripda Adrianus Agul dan Bripda Kasmirus Meo. Dari Tim Healing Polda Bali, ikut serta Iptu Nyoman Trijaya Putra, Aipda Dewa Ayu Dewi, Bripda I Gd Widarma dan Bripda Ni Wayan Aprilia.
Kehadiran dua tim tersebut memberikan warna berbeda dalam misi kemanusiaan ini. Sebab bencana tidak hanya meninggalkan persoalan fisik berupa kerusakan dan kekurangan kebutuhan dasar. Bencana juga dapat meninggalkan tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Karena itu, bantuan kemanusiaan tidak cukup hanya dengan mengirimkan makanan. Ada luka yang tidak terlihat. Ada ketakutan yang tidak tercatat dalam manifest. Ada trauma yang tidak dapat ditimbang dalam kilogram. Di titik inilah trauma healing menjadi penting.
Kehadiran tim pendamping diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama anak-anak, menghadapi dampak psikologis akibat bencana dan secara perlahan membangun kembali rasa aman serta optimisme mereka.
Misi kemanusiaan tersebut juga menunjukkan adanya kolaborasi lintas satuan. Dari Direktorat Polairud Polda NTT, turut dalam pelayaran AKP M. Idris Hamzah, Bripda Putu Sulatra, Briptu Aldy Bana, Bripda M. Buyung dan Bharada Agung Sinlae.
Sementara dari Polres Sikka terdapat Kabag Ops Polres Sikka, Kasat Polairud Polres Sikka, Ipda Yudi, Aipda Arka dan Aipda Arya. Dua orang perwakilan KBBP juga turut dalam rombongan. Sementara kekuatan crew KP. KASTURI 6002 berjumlah 26 orang, dengan 25 orang hadir dalam pelayaran dan satu personel tidak ikut karena melaksanakan cuti.
Kehadiran personel dari berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa respons terhadap bencana membutuhkan kerja bersama. Tidak ada satu unsur yang dapat berjalan sendiri ketika masyarakat sedang membutuhkan bantuan dalam jumlah besar dan harus dijangkau melalui jalur laut.
Bagi wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur, laut sering kali menjadi tantangan dalam distribusi bantuan. Jarak, cuaca dan keterbatasan akses transportasi dapat membuat bantuan membutuhkan waktu lebih panjang untuk sampai kepada masyarakat.
KP. KASTURI 6002 menembus jalur laut menuju Palu’e dengan membawa kebutuhan masyarakat dari Maumere. Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi alasan untuk membuat warga terdampak bencana merasa jauh dari perhatian negara.
Kapal itu bergerak membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa mereka yang berada di pulau tidak boleh merasa sendirian hanya karena dipisahkan oleh laut. Polri Hadir Ketika Warga Membutuhkan
Dalam situasi bencana, ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada seberapa cepat sebuah bantuan diberangkatkan. Yang jauh lebih penting adalah apakah bantuan tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pangan untuk mengisi perut. Air untuk kebutuhan sehari-hari. Selimut untuk menghadapi malam. Pakaian untuk anak-anak. Dan pendampingan untuk membantu memulihkan mental warga yang mengalami guncangan akibat bencana. Semua elemen tersebut dibawa dalam satu perjalanan.
Karena itulah keberangkatan KP. KASTURI 6002 dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar agenda operasional kepolisian. Ini merupakan manifestasi kehadiran kemanusiaan. Di tengah bencana, masyarakat membutuhkan bukti bahwa mereka diperhatikan. Dan bukti itu malam tersebut bergerak meninggalkan Dermaga L. Say Maumere dalam bentuk sebuah kapal polisi yang sarat muatan bantuan.
Ketika KP. KASTURI 6002 bertolak pada pukul 00.10 Wita, Palu’e menjadi tujuan, tetapi kemanusiaan menjadi arah perjalanan. Sekitar 15 ton bantuan yang dibawa bukan sekadar angka. Setiap karung beras, setiap dos mi, setiap botol air, setiap selimut dan setiap pakaian anak membawa pesan bahwa solidaritas harus hadir dalam bentuk nyata.
Masyarakat terdampak gempa tidak hanya membutuhkan simpati dari kejauhan. Mereka membutuhkan tangan yang datang, bantuan yang tiba dan kehadiran yang dapat dirasakan. Misi tersebut diharapkan mampu meringankan beban warga Pulau Palu’e sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan setelah bencana.
Di atas laut yang tenang dengan gelombang sekitar setengah hingga satu meter, KP. KASTURI 6002 terus bergerak menuju Palu’e. Di lambungnya ada logistik. Di dalamnya ada personel. Tetapi yang sesungguhnya dibawa adalah harapan. Harapan bahwa setelah guncangan bumi berlalu, masyarakat tidak dibiarkan menghadapi sisa-sisa bencana sendirian. Dan malam itu, Polri memilih untuk tidak hanya berbicara tentang kepedulian.Polri mengirimkannya menyeberangi laut. NTT PENUH KASIH, POLRI UNTUK MASYARAKAT [Cm24]


