Polres Sikka Hadirkan Inovasi Pembinaan Mental Anak Polri (RBC) Lewat Terapi Useft
Kegiatan terapi USEFT bagi anak-anak Polri (RBC) Polres Sikka dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026 berjalan aman, tertib, dan lancar. Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan ketenangan, rasa lega, serta semangat baru bagi peserta, sekaligus menjadi bentuk nyata kepedulian Polres Sikka dalam mendukung kesehatan mental dan keseimbangan emosi anak-anak keluarga besar Polri melalui pendekatan yang humanis.
Maumere, 23 Juni 2026. Tribratanewssikka.com - Dalam rangka menyemarakkan Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Sikka melalui Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) kembali menunjukkan langkah progresif dan humanis dalam pembinaan keluarga besar Polri.

Salah satunya melalui kegiatan bantuan terapi USEFT (Ultimate The Source Body, Mind & Soul Emotional Freedom Technique) bagi anak-anak Polri (RBC), yang digelar di Ruang Kapela Oikumene Polres Sikka, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung singkat namun sarat makna pada pukul 12.30 hingga 13.00 WITA tersebut diikuti oleh 25 anak-anak Polri (RBC). Di balik durasi yang relatif padat, tersimpan pendekatan pembinaan yang menitikberatkan pada keseimbangan emosi, ketenangan psikologis, serta penguatan karakter sejak usia dini dalam lingkungan keluarga besar Polri.

Polres Sikka menempatkan aspek psikologis sebagai salah satu perhatian penting dalam pembinaan internal, termasuk bagi anak-anak anggota Polri. Melalui kegiatan USEFT ini, institusi berupaya menghadirkan ruang edukasi emosional yang dikemas secara sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Kegiatan dipimpin oleh AKP Susanto, SE selaku ketua tim, didukung oleh tenaga terapis internal yakni IPDA Rusyudi Mangge, S.Psi, AIPDA Herry Ariawan, serta BRIGPOL Rid Mude, S.Psi. Para personel ini tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai pendamping yang membangun suasana aman, nyaman, dan penuh kedekatan emosional dengan para peserta.
Sejak awal kegiatan, suasana dibangun secara cair melalui ice breaking dan perkenalan, sehingga anak-anak tidak merasa berada dalam forum formal yang kaku. Pendekatan ini menjadi pintu masuk penting dalam menciptakan keterbukaan emosional sebelum memasuki tahapan terapi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan dasar metode USEFT, termasuk pemahaman mengenai titik sorespot, teknik tapping pada 17 titik tubuh, serta latihan looking and seeing. Edukasi ini diberikan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh peserta usia anak-anak.
Pada tahap inti, anak-anak diajak mengikuti terapi massal dengan kondisi relaksasi. Dengan mata terpejam, mereka memegang titik sorespot sambil mengikuti arahan terapis untuk melakukan proses pelepasan emosi negatif. Dalam suasana hening yang terarah, peserta secara bersama-sama melakukan teknik tapping 17 titik tubuh sambil mengucapkan afirmasi: SAYA NIATKAN UNTUK MEMBUANG SEMUA EMOSI NEGATIF INI.”
Afirmasi ini menjadi simbolisasi pelepasan beban emosional yang selama ini mungkin dirasakan oleh anak-anak, sekaligus membangun sugesti positif untuk menciptakan ketenangan batin.
Tahapan berikutnya adalah charging, yakni proses pengisian energi positif. Pada fase ini, anak-anak diarahkan untuk menerima afirmasi yang membangun rasa percaya diri, kebahagiaan, serta semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tidak berhenti di situ, sesi dilanjutkan dengan teknik relaksasi pernapasan terstruktur: tarik napas dalam, tahan, lalu hembuskan secara perlahan hingga tiga kali pengulangan, dengan penahanan pada hitungan tertentu. Teknik ini bertujuan menstabilkan ritme tubuh sekaligus menenangkan kondisi psikologis peserta.
Sesi looking and seeing menjadi bagian yang menarik perhatian. Anak-anak diajak melakukan stimulasi titik tertentu di sela jari, disertai gerakan mata, ekspresi wajah seperti membuka mata lebar, hingga menggumamkan lagu “Happy Birthday”, serta gerakan eyeroling sebagai bentuk pelepasan ketegangan emosional secara simbolik.
Meski dikemas sederhana, kegiatan ini memberikan ruang refleksi emosional bagi anak-anak. Pada sesi akhir, salah satu peserta diminta menyampaikan kesan dan perubahan yang dirasakan sebelum dan sesudah mengikuti terapi.
Secara umum, para peserta menyampaikan perubahan suasana hati yang signifikan. Mereka mengaku merasa lebih lega, tenang, rileks, bahagia, dan bersemangat, bahkan sebagian menyebutkan adanya perasaan lebih ringan setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Ekspresi tersebut menjadi indikator bahwa pendekatan berbasis pengelolaan emosi yang dilakukan melalui kegiatan ini mampu memberikan pengalaman psikologis yang positif bagi peserta anak-anak Polri (RBC).
Melalui kegiatan ini, Polres Sikka menegaskan bahwa peran kepolisian tidak semata terbatas pada aspek penegakan hukum dan keamanan, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kesejahteraan psikologis keluarga besar Polri.
Kabag SDM Polres Sikka menekankan bahwa pembinaan mental dan emosional sejak dini merupakan bagian penting dalam membentuk generasi yang lebih stabil, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan dinamika kehidupan.
Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran emosional yang berkelanjutan, sehingga anak-anak Polri dapat tumbuh dengan ketahanan mental yang lebih baik serta memiliki kemampuan mengelola perasaan secara sehat.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dalam suasana aman, tertib, dan kondusif. Interaksi antara terapis dan peserta berlangsung cair, mencerminkan pendekatan humanis yang menjadi roh utama kegiatan ini.
Di penghujung kegiatan, suasana hangat terlihat saat anak-anak menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dan pendampingan yang diberikan. Kegiatan kemudian ditutup dengan pengisian berita acara serta dokumentasi sebagai bagian dari pertanggungjawaban administrasi kegiatan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Polres Sikka kembali menegaskan komitmennya dalam membangun institusi Polri yang tidak hanya profesional dalam tugas, tetapi juga humanis dalam pendekatan, terutama dalam menjaga keseimbangan mental dan emosional generasi penerus keluarga besar Bhayangkara.[Cm24]


