Pengawasan Ketat Warnai Distribusi MBG di Sikka, 25.279 Porsi Tepat Sasaran
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka pada Senin, 8 Juni 2026 berjalan aman, tertib, dan lancar dengan total 25.279 penerima manfaat yang tersebar di berbagai sekolah dan posyandu. Dari 18 dapur SPPG yang telah direkomendasikan Badan Gizi Nasional (BGN), sebanyak 15 dapur aktif beroperasi, sementara 3 dapur lainnya masih berhenti sementara akibat kendala teknis berupa perbaikan IPAL dan belum cairnya dana operasional. Program ini tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi bagi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, tetapi juga membuka lapangan kerja lokal serta memperlihatkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia sejak usia dini di Kabupaten Sikka.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 9 Juni 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka terus menunjukkan geliat pelaksanaan yang semakin luas. Pada Senin, 8 Juni 2026, sebanyak 25.279 porsi makanan bergizi berhasil didistribusikan kepada ribuan penerima manfaat yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Sikka.

Program unggulan nasional yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia itu menyasar peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, serta tenaga pendidik.
Sejak pagi hari, aktivitas pendistribusian telah berlangsung di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di wilayah Kabupaten Sikka. Kendaraan pengangkut makanan bergerak keluar dari dapur-dapur MBG menuju sekolah, posyandu, hingga pusat layanan pendidikan dengan membawa menu makanan bergizi yang disiapkan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Dari total 18 dapur SPPG yang telah memperoleh rekomendasi resmi BGN, sebanyak 15 dapur aktif beroperasi pada hari tersebut. Sementara tiga dapur lainnya masih menghentikan operasional sementara, masing-masing SPPG Wailiti di Kecamatan Alok Barat yang sedang menjalani perbaikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta SPPG Nangameting 01 dan Nangameting 02 di Kecamatan Alok Timur yang belum dapat beroperasi akibat dana operasional dari BGN yang masih dalam proses pencairan.
Meski demikian, pelaksanaan MBG di wilayah lain berjalan intensif dan masif. Di Kecamatan Alok, lima dapur SPPG di wilayah Kota Uneng menjadi tulang punggung distribusi dengan ribuan porsi makanan disalurkan kepada sekolah-sekolah dan posyandu. Salah satunya, SPPG Kota Uneng 02 yang dikelola Yayasan Makmur Sejahtera Indonesia menyalurkan 2.300 porsi, menjangkau siswa di sejumlah sekolah besar termasuk SMKN 1 Maumere dan SMP Alok, serta kelompok rentan melalui posyandu.
Tak kalah besar, SPPG Kota Uneng 03 mendistribusikan 2.277 porsi, termasuk kepada siswa SMAN 1 Maumere dan SMAK Frateran Maumere, sementara SPPG Kota Uneng 05 menjangkau hampir dua ribu penerima manfaat dengan distribusi mencapai 1.955 porsi.
Di Kecamatan Kangae, aktivitas pendistribusian berlangsung melalui SPPG Tanaduen dan SPPG Watuliwung. Dari dapur Tanaduen yang dikelola Yayasan Beatrix Peduli Anak, distribusi dilakukan kepada sekolah-sekolah dan posyandu di wilayah Kangae dan sebagian Kewapante. Sebanyak 1.673 porsi makanan bergizi tersalurkan dengan menu berupa nasi putih, ikan tuna, tempe goreng, tumis kacang panjang dan wortel, serta buah pisang.
Sementara itu, SPPG Watuliwung yang berada di bawah Yayasan Garuda Bakti Flores mendistribusikan 1.199 porsi, menjangkau sekolah dan posyandu di wilayah Watuliwung, Habi, Weko hingga Wairhubing. Kehadiran program ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat, terutama keluarga penerima manfaat yang selama ini menghadapi tantangan pemenuhan gizi anak.
Di wilayah Kecamatan Kewapante, SPPG Waiara yang dikelola Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (YASPEM) Maumere turut bergerak aktif dengan menyalurkan 1.214 porsi makanan bergizi kepada sekolah dan posyandu. Program ini menyentuh berbagai satuan pendidikan mulai tingkat TK hingga sekolah menengah, termasuk SMP Negeri Kewapante, sekolah swasta, serta sejumlah posyandu di Waiara, Wairwerut, Wolonbue, hingga Krokowolon.
Sementara di Kecamatan Paga, angka distribusi tercatat paling menonjol dengan 2.634 porsi makanan bergizi disalurkan melalui SPPG Paga. Ribuan penerima manfaat berasal dari berbagai sekolah mulai tingkat dasar hingga menengah serta kelompok ibu dan balita di posyandu. Menariknya, dapur MBG di wilayah ini menyajikan kombinasi menu yang cukup variatif berupa nasi merah, ayam wijen, tahu goreng, tumis kacang panjang dan wortel, serta buah pisang.
Di sisi timur Kabupaten Sikka, SPPG Watubaing di Kecamatan Talibura mendistribusikan 1.192 porsi, sementara SPPG Nangatobong di Kecamatan Waigete menyalurkan 1.507 porsi kepada sekolah, PAUD, dan posyandu yang tersebar di kawasan tersebut.
Tak hanya menjangkau peserta didik, program ini juga memberi perhatian kepada kelompok 3B—yakni ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita—melalui distribusi makanan tambahan di posyandu. Kehadiran MBG di posyandu dinilai menjadi langkah strategis dalam menekan angka stunting serta memperkuat kualitas kesehatan generasi masa depan.
Berbagai menu yang disajikan dalam pendistribusian hari itu memperlihatkan upaya pemenuhan kebutuhan gizi secara seimbang. Hampir seluruh dapur menyediakan kombinasi karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, serta buah-buahan. Menu yang dibagikan bervariasi mulai dari ayam goreng, ikan tuna, ayam saus lada hitam, sate ayam bumbu kacang, ayam wijen, tahu goreng, tempe olahan, aneka tumisan sayur, hingga buah semangka, pepaya, pisang, dan jeruk.
Di balik kelancaran distribusi, terdapat puluhan tenaga kerja lokal yang dilibatkan pada masing-masing dapur MBG. Pada wilayah hukum Polsek Kewapante, misalnya, tiga dapur SPPG—Wairhubing, Waiara, dan Watuliwung—tercatat mempekerjakan 47 orang karyawan, seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar lokasi dapur. Mereka bekerja mulai dari proses pengolahan bahan makanan, pengemasan, hingga distribusi menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat yang telah memenuhi standar operasional BGN.
Pengawasan terhadap pelaksanaan program juga dilakukan secara intensif. Di wilayah Kabupaten Sikka, pendistribusian MBG dimonitor oleh personel Unit II Ekonomi Sat Intelkam Polres Sikka, sementara di wilayah hukum Polsek Kewapante dilakukan pemantauan langsung oleh Kanit Intelkam Polsek Kewapante, Aipda Yoseph Puri Koles. Monitoring dilakukan guna memastikan distribusi berjalan tepat sasaran, aman, dan tidak mengalami kendala teknis di lapangan.
Hingga kegiatan berakhir sekitar pukul 13.00 WITA, situasi secara umum dilaporkan aman, tertib, dan terkendali. Belum ditemukan hambatan berarti selama proses pendistribusian berlangsung.
Program MBG di Kabupaten Sikka kini bukan lagi sekadar agenda kebijakan nasional, melainkan mulai menjadi denyut baru pelayanan sosial di tingkat akar rumput. Di tengah tantangan ekonomi keluarga dan persoalan pemenuhan gizi anak, hadirnya makanan bergizi gratis di sekolah-sekolah dan posyandu menghadirkan secercah kepastian bahwa negara sedang berupaya hadir di meja makan masyarakat. [Cm24]


