Rawat Iman, Kokohkan Pengabdian: Polres Sikka Perkuat Mental Personel melalui Binroh Lintas Agama

Pelaksanaan Binroh lintas agama di Polres Sikka dan seluruh Polsek jajaran bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan bagian penting dalam membentuk personel yang beriman, berintegritas, bermental kuat, dan humanis. Melalui pembinaan tersebut, Polres Sikka terus meneguhkan komitmen menghadirkan sosok polisi yang profesional dalam tugas, kokoh dalam prinsip, serta mampu mengabdi kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan kemanusiaan.

Rawat Iman, Kokohkan Pengabdian: Polres Sikka Perkuat Mental Personel melalui Binroh Lintas Agama
Binroh Lintas Agama Digelar Serentak, Polres Sikka Teguhkan Mental dan Karakter Personel

Maumere, 8 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com — Menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia bukan semata-mata tentang seragam, kewenangan, maupun kemampuan menghadapi berbagai persoalan keamanan di tengah masyarakat. Di balik tugas menjaga keamanan dan ketertiban, seorang polisi juga dituntut memiliki keteguhan moral, kematangan mental, serta landasan spiritual yang mampu menjadi kompas dalam setiap tindakan dan keputusan.

Kesadaran itulah yang terus dibangun Polres Sikka melalui pelaksanaan Bimbingan Rohani dan Mental (Binroh) bagi personel Polres Sikka dan Polsek jajaran, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA tersebut menjadi bagian dari pembinaan sumber daya manusia Polri, sekaligus ruang bagi personel untuk sejenak menarik diri dari rutinitas tugas, menata kembali batin, memperkuat keimanan, dan menghidupkan kembali kesadaran bahwa setiap tugas kepolisian pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Binroh dilaksanakan secara lintas agama dengan memberikan ruang yang setara bagi personel beragama Islam, Katolik/Kristen, maupun Hindu untuk mengikuti pembinaan sesuai keyakinan masing-masing.

 

Pelaksanaan kegiatan berada di bawah koordinasi Bagian Sumber Daya Manusia (Bag SDM) Polres Sikka bersama para Kapolsek jajaran. Peserta terdiri dari Pejabat Utama Polres Sikka, para perwira, personel Polres, hingga personel Polsek jajaran.

 

Di lingkungan Mako Polres Sikka, pembinaan rohani berlangsung di sejumlah tempat ibadah dan ruang pembinaan keagamaan. Personel beragama Islam mengikuti Binroh secara daring melalui Zoom Meeting dari Mushola Al-Hikmah Polres Sikka. Kegiatan tersebut dibawakan oleh Ipda Moh. Yakup, S.H., M.H.

 

Sementara personel beragama Katolik dan Kristen mengikuti ibadah secara tatap muka di Gereja Oikumene Polres Sikka. Ibadah dipimpin oleh Aipda Victor Paskalis Kane, Ba Sikum Polres Sikka.

 

Adapun personel beragama Hindu melaksanakan pembinaan rohani secara tatap muka di Ruangan Umat Hindu Polres Sikka, dengan ibadah dipimpin oleh IPTU I Nyoman Suwasta, PS. Kasat Intelkam Polres Sikka.

 

Tidak berhenti di lingkungan Mako Polres, kegiatan pembinaan rohani juga menjangkau personel di tingkat kewilayahan. Personel Polsek Alok, Polsek Nita, Polsek Kewapante, Polsek Paga, Polsek Waigete, Polsek Bola, Polsek Lela, dan Polsek Nelle mengikuti kegiatan Binroh dari masing-masing mako melalui sarana Zoom.

 

Pelaksanaan secara serentak tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan personel tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis dan profesionalitas dalam menjalankan tugas kepolisian. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni membangun manusia di balik seragam kepolisian.

 

Sebab, kemampuan seorang polisi dalam menghadapi gangguan keamanan, konflik sosial, kriminalitas, maupun berbagai persoalan masyarakat akan semakin kuat apabila ditopang oleh mental yang sehat dan karakter yang kokoh.

 

Kewenangan tanpa integritas dapat kehilangan arah. Kemampuan tanpa moral dapat kehilangan batas. Dan profesionalisme tanpa keteguhan batin dapat kehilangan makna.

 

Di titik inilah pembinaan rohani memiliki arti strategis. Binroh menjadi ruang refleksi agar setiap personel tidak hanya memahami apa yang harus dilakukan dalam menjalankan tugas, tetapi juga menyadari bagaimana seharusnya menjalankan tugas tersebut.

 

Nilai keagamaan diharapkan mampu membentuk sikap personel agar senantiasa mengedepankan kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, tanggung jawab, kepedulian, serta penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

 

Terlebih, tugas kepolisian bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Polisi hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, ketika terjadi persoalan, ketika keamanan terganggu, maupun ketika warga membutuhkan pelayanan.

 

Dalam situasi seperti itu, kemampuan mengendalikan emosi, mengambil keputusan secara bijaksana, dan bertindak berdasarkan nilai keadilan menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang anggota Polri.

 

Karena itu, pembinaan mental dan spiritual tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, Binroh merupakan investasi karakter. Ia bekerja secara perlahan tetapi mendalam—membentuk cara berpikir, membangun kesadaran, menguatkan ketahanan mental, dan menanamkan nilai bahwa kekuasaan yang melekat pada profesi kepolisian harus selalu digunakan secara bertanggung jawab.

 

Pelaksanaan Binroh lintas agama di Polres Sikka juga menyimpan pesan penting tentang keberagaman. Di dalam satu institusi kepolisian, personel datang dari latar belakang keyakinan yang berbeda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

 

Sebaliknya, setiap pemeluk agama diberikan ruang untuk memperkuat iman dan menjalankan pembinaan sesuai keyakinannya, sementara dalam tugas kepolisian mereka tetap berdiri dalam satu barisan pengabdian. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa toleransi bukan sekadar slogan yang diucapkan, melainkan sesuatu yang perlu dibangun melalui kebiasaan dan keteladanan. 

 

Dari ruang ibadah yang berbeda, mereka kembali pada tugas yang sama: memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan, serta menjaga keamanan masyarakat. Di tengah masyarakat Kabupaten Sikka yang hidup dalam keberagaman, keteladanan semacam ini memiliki nilai yang sangat penting.

 

Polisi tidak hanya dituntut menjadi penjaga keamanan, tetapi juga harus mampu menjadi salah satu simpul yang menjaga persaudaraan sosial tetap hidup. Ketika personel memiliki fondasi spiritual yang baik, diharapkan nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian terhadap sesama tidak berhenti dalam ruang ibadah, tetapi ikut terbawa ke tengah pelaksanaan tugas.

 

Pada akhirnya, membangun institusi kepolisian yang kuat tidak cukup hanya dengan memperkuat sarana, meningkatkan kemampuan operasional, maupun mengasah keterampilan teknis. Institusi yang kuat harus dimulai dari manusia yang berada di dalamnya.

 

Dan manusia yang kuat bukan hanya mereka yang mampu berdiri tegak ketika menghadapi tekanan, tetapi juga mereka yang mampu menjaga hati dan pikirannya ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, konflik, maupun godaan dalam menjalankan tugas.

 

Binroh menjadi salah satu jalan untuk membangun kekuatan tersebut dari dalam. Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten, personel diingatkan bahwa menjadi anggota Polri merupakan amanah yang memiliki konsekuensi moral. Setiap tindakan seorang polisi dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang diembannya.

 

Karena itu, setiap pelayanan yang diberikan, setiap keputusan yang diambil, dan setiap tindakan yang dilakukan di lapangan semestinya lahir dari kesadaran bahwa di balik seragam yang dikenakan terdapat tanggung jawab besar terhadap masyarakat.

 

Kegiatan Binroh Polres Sikka dan Polsek jajaran pada Kamis tersebut pun berlangsung tertib, aman, dan lancar. Namun makna kegiatan itu jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian agenda pembinaan rutin.

 

Ia menjadi pengingat bahwa profesionalisme polisi tidak hanya diukur dari seberapa tangkas seorang anggota menghadapi persoalan di lapangan, tetapi juga dari seberapa kuat ia mampu menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang mengawasinya.

 

Di situlah iman, moral, dan keteguhan karakter menemukan tempatnya. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang kuat menghadapi ancaman, tetapi juga polisi yang tenang ketika menghadapi persoalan, adil ketika mengambil keputusan, humanis ketika melayani, tegas ketika diperlukan, dan tetap memiliki hati ketika menjalankan kewenangan.

 

Melalui Binroh lintas agama, Polres Sikka terus menanamkan fondasi tersebut: merawat iman untuk menguatkan mental, menguatkan mental untuk memperkokoh integritas, dan memperkokoh integritas untuk menghadirkan pengabdian Polri yang semakin dipercaya masyarakat. [Cm24]

#POLISI BERSAMA MASYARAKAT#