Rangkaian Devosan Kerahiman Ilahi Dikawal Polsek Paga Polres Sikka, 1.300 Umat Jalani Kegiatan dengan Aman
Kegiatan Devosan Kerahiman Ilahi se-Keuskupan Maumere yang diikuti sekitar 1.300 umat dari 24 paroki menjadi momentum memperkuat iman, persaudaraan, kasih, dan kepedulian terhadap sesama. Kehadiran Polsek Paga dalam pengamanan turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar, sekaligus menegaskan komitmen Polri untuk selalu hadir memberikan rasa aman dan pelayanan kepada masyarakat.
Maumere, 5 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com — Ribuan umat dari berbagai penjuru Keuskupan Maumere berkumpul dalam satu semangat iman dan persaudaraan. Sebanyak kurang lebih 1.300 Mama Kerahiman dari 24 paroki ambil bagian dalam Kegiatan Devosan Kerahiman Ilahi se-Keuskupan Maumere yang berlangsung di Rumah Retret Susteran JDS Kaliwajo, Desa Aebubu, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Senin (5/10/2026).

Mengusung tema “Saksi Kasih dan Kerahiman Allah bagi Dunia”, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pertemuan umat, melainkan menjadi momentum untuk memperdalam iman sekaligus meneguhkan kembali panggilan umat untuk menghadirkan kasih, pengampunan, kepedulian, dan kerahiman Allah dalam kehidupan nyata.

Sejak pagi, suasana Rumah Retret Susteran JDS Kaliwajo dipenuhi kehadiran umat yang datang dari berbagai komunitas paroki. Mereka berkumpul dalam satu semangat yang sama, yakni menghidupi Devosi Kerahiman Ilahi serta menjadikannya sebagai kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan keluarga, kehidupan menggereja, dan kehidupan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga sekitar 16.20 WITA tersebut dipimpin oleh RP Ferdinandus Heldi Tanga, RCJ dan RP Inosensius Ruben Hetu, CJD. Turut hadir Suster Yosefin, CDS bersama para biarawati dari Susteran JDS Kaliwajo.
Besarnya jumlah peserta memperlihatkan bahwa Devosi Kerahiman Ilahi memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan umat. Dari 24 paroki, umat hadir membawa semangat yang sama: menjadikan iman bukan hanya sebagai sesuatu yang dirayakan dalam ruang ibadah, tetapi sebagai nilai yang harus diterjemahkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Peserta tersebut berasal dari Paroki Katedral, Paroki St. Thomas Morus, Paroki Bolawolon, Stasi St. Thomas Rasul Nanga Paroki Lela, Paroki Lekebai, Paroki Nele, Paroki Koting, Paroki Tilang, Paroki Misir, Paroki Watublapi, Paroki Waioti, Paroki Ili, Paroki Bola, Paroki Mauloo, Paroki Nangahure, Paroki Wolonmaget, Paroki Nita, Paroki Wolofeo, Paroki Kewapante, Paroki Sanctissima Trinitas Bloro, Paroki St. Simon Petrus Masebewa, Paroki Feondari, Paroki Kisa, dan Paroki Habi.
Kehadiran umat dari berbagai wilayah tersebut sekaligus menjadi gambaran kuat tentang bagaimana semangat persaudaraan dapat menyatukan perbedaan jarak, komunitas, maupun latar belakang dalam satu perayaan iman.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Rosario pada pukul 09.00 hingga 09.30 WITA. Doa tersebut menjadi pintu pembuka seluruh kegiatan, membawa peserta memasuki suasana batin yang lebih khusyuk sekaligus mempersiapkan diri untuk mengikuti rangkaian kegiatan sepanjang hari.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan seminar oleh Pater Ino, CJD, pada pukul 09.30 hingga 10.30 WITA. Seminar menjadi ruang bagi umat untuk memperkaya pemahaman dan memperdalam refleksi mengenai Kerahiman Ilahi serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
Puncak spiritual kegiatan kemudian berlangsung melalui Perayaan Ekaristi pada pukul 10.30 hingga 12.00 WITA. Perayaan Ekaristi tersebut sekaligus dilaksanakan dalam rangka peringatan Santa Faustina Kowalska, yang memiliki keterkaitan erat dengan pewartaan Devosi Kerahiman Ilahi.
Bagi para peserta, perayaan tersebut bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian acara, tetapi menjadi momentum untuk kembali menempatkan kasih dan kerahiman Allah sebagai sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Setelah Perayaan Ekaristi, kebersamaan dilanjutkan melalui makan siang bersama. Sederhana, tetapi sarat makna. Sebab, persaudaraan tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar. Duduk bersama, berbagi makanan, berbicara, dan saling menyapa menjadi bagian dari cara sederhana untuk mempererat hubungan antarsesama.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan arahan dari Pater Moderator dan Ketua Panitia, kemudian diisi acara sukacita bersama. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika para peserta mengikuti Doa Kerahiman pada pukul 14.45 hingga 15.45 WITA.
Doa Kerahiman menjadi salah satu bagian penting yang mengingatkan umat bahwa kerahiman tidak boleh berhenti sebatas kata-kata atau doa. Kerahiman harus menjelma menjadi sikap hidup—mampu mengampuni, peduli terhadap sesama, menolong mereka yang membutuhkan, serta menghadirkan kesejukan di tengah kehidupan bersama.
Di tengah besarnya jumlah umat yang hadir, aspek keamanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suksesnya kegiatan. Polsek Paga hadir memberikan pengamanan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar. Pengamanan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Kapolsek Paga Nomor: Sprin/70/X/2026/Sek Paga tanggal 4 Oktober 2026.
Personel yang terlibat dalam pengamanan masing-masing AIPTU Vincentius F. Ama, AIPTU Bambang Haryanto, AIPDA Antonius Minggu, AIPDA Jainudin Kasim, dan AIPDA Yulius Langga.
Kehadiran polisi di tengah kegiatan keagamaan tersebut memperlihatkan bahwa tugas Polri tidak semata-mata berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga bagaimana memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam menjalankan aktivitas, termasuk kegiatan keagamaan.
Pengamanan dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat sekaligus bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tetap aman dan kondusif.
Bagi masyarakat yang sedang melaksanakan kegiatan keagamaan, rasa aman merupakan kebutuhan mendasar. Ketika umat dapat berdoa, beribadah, berkumpul, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tanpa rasa khawatir, di situlah kehadiran aparat keamanan menemukan makna pentingnya.
Polri hadir bukan untuk mengambil ruang dalam kegiatan umat, tetapi memastikan ruang tersebut tetap aman bagi masyarakat. Inilah wajah pelayanan kepolisian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—hadir ketika dibutuhkan, menjaga ketika masyarakat berkegiatan, dan memastikan setiap aktivitas dapat berlangsung secara tertib serta kondusif.
Kerahiman yang Dihidupi, Persaudaraan yang Dikuatkan. Kegiatan Devosan Kerahiman Ilahi se-Keuskupan Maumere pada akhirnya membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar berakhirnya sebuah agenda.
Kerahiman adalah panggilan untuk menghadirkan kasih dalam kehidupan. Ia menuntut keberanian untuk mengampuni, ketulusan untuk peduli, dan kesediaan untuk berjalan bersama sesama.
Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting. Sebab kehidupan bersama tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan hati yang mampu memahami, tangan yang bersedia menolong, dan sikap yang mampu menjaga persaudaraan.
Melalui tema “Saksi Kasih dan Kerahiman Allah bagi Dunia”, umat diajak untuk tidak berhenti menjadi penerima kasih, tetapi juga menjadi saksi dan pembawa kasih di tengah keluarga, lingkungan Gereja, maupun masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan tersebut bukan hanya mempertemukan 1.300 umat dari 24 paroki, tetapi juga mempertemukan hati dalam satu semangat: membangun kehidupan yang lebih penuh kasih, persaudaraan, kepedulian, dan kedamaian.
Seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga sore hari tersebut berjalan aman, tertib, dan lancar dengan dukungan pengamanan dari personel Polsek Paga.
Kehadiran Polri dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun kedekatan dengan masyarakat, menjaga keamanan, serta memberikan pelayanan secara humanis dalam setiap aktivitas masyarakat.
Sebab keamanan bukan hanya tentang menjaga situasi agar tidak terjadi gangguan. Keamanan juga tentang menghadirkan rasa tenang, memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas, dan membangun kepercayaan melalui kehadiran yang nyata.
Ketika umat berkumpul dalam doa, ketika masyarakat menjalankan kegiatan keagamaan dengan penuh sukacita, dan ketika aparat hadir menjaga situasi tetap aman, di situlah sinergi antara masyarakat dan kepolisian menemukan makna yang sesungguhnya.
Kegiatan boleh berakhir, tetapi pesan kerahiman harus terus hidup. Doa boleh selesai, tetapi semangat untuk menjaga persaudaraan harus tetap menyala. Dan pengamanan boleh berakhir, tetapi komitmen Polri untuk hadir bersama masyarakat harus terus berjalan. [Cm24]
#Polisi Bersama Masyarakat#


