Bulan Rosario, Umat Katolik Gereja Oikumene Polres Sikka Bersatu dalam Doa dan Persaudaraan

Prosesi penyerahan dan penerimaan Patung Bunda Maria dalam rangka Bulan Rosario di Gereja Oikumene Polres Sikka menjadi momentum untuk memperteguh iman, meningkatkan ketekunan berdoa, serta mempererat persaudaraan dan kekeluargaan umat Katolik. Kegiatan berlangsung aman dan lancar, dilanjutkan dengan Doa Rosario bersama. Semangat yang diusung menegaskan bahwa iman sejati tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui kasih, kepedulian, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Rosario, Umat Katolik Gereja Oikumene Polres Sikka Bersatu dalam Doa dan Persaudaraan
Prosesi Patung Bunda Maria di Gereja Oikumene Polres Sikka, Perteguh Iman dan Kokohkan Persaudaraan Umat Katolik dalam Bulan Rosario

Maumere, 14 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com — Semangat iman, kekhusyukan doa, dan ikatan persaudaraan mewarnai prosesi penyerahan dan penerimaan Patung Bunda Maria dalam rangka Bulan Rosario yang berlangsung di Gereja Oikumene Polres Sikka, Kamis (19/10/2023), pukul 19.00 WITA. 

Kegiatan yang dipusatkan di Mako Polres Sikka, Jalan Jenderal A. Yani, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, tersebut menjadi momentum rohani bagi umat Katolik untuk memperdalam penghayatan iman sekaligus mempererat kebersamaan dalam kehidupan menggereja.

 

Prosesi diawali dengan perarakan Patung Bunda Maria dari KUB Bunda Permaisuri Surga menuju KUB Maria Ratu Damai. Perjalanan devosional tersebut bukan sekadar rangkaian tradisi keagamaan, melainkan sebuah ungkapan iman yang mengajak umat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, refleksi, dan keteladanan hidup Bunda Maria.

 

Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghormatan. Doa penyerahan kepada Bunda Maria mengawali prosesi, disusul doa penerimaan sebagai ungkapan syukur dan komitmen untuk melanjutkan devosi dalam semangat Bulan Rosario. Suasana semakin semarak ketika Patung Bunda Maria disambut melalui pengalungan dan penaburan bunga, diiringi lagu-lagu penyambutan yang mencerminkan sukacita serta kecintaan umat kepada Bunda Maria.

 

Setelah seluruh rangkaian penyambutan dilaksanakan, Patung Bunda Maria kemudian diarak menuju tempat pentahtaan di Gereja Oikumene Polres Sikka. Prosesi ini menjadi simbol kesinambungan kehidupan rohani umat, sekaligus pengingat bahwa iman harus terus dipelihara melalui doa, ketekunan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bulan Rosario memiliki makna penting bagi umat Katolik sebagai kesempatan untuk semakin tekun berdoa, merenungkan perjalanan iman, serta meneladani kehidupan Bunda Maria. Melalui prosesi tersebut, umat diajak untuk tidak berhenti pada penghormatan secara lahiriah, tetapi juga menghidupi nilai-nilai yang dicontohkan Bunda Maria, seperti kerendahan hati, ketaatan, kesetiaan, kasih, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

 

Doa Rosario menjadi sarana refleksi spiritual yang mengarahkan umat untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, ketekunan dalam doa diharapkan mampu memperkuat ketenangan batin, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta membentuk karakter yang mengedepankan kasih dan perdamaian.

 

Karena itu, prosesi penyerahan dan penerimaan Patung Bunda Maria tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggilan bagi setiap umat untuk menerjemahkan iman ke dalam perbuatan konkret, baik melalui pelayanan, kepedulian sosial, sikap saling menghormati, maupun kesediaan untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis.

 

Di samping memperdalam kehidupan rohani, kegiatan ini juga memiliki arti penting dalam mempererat persaudaraan dan kekeluargaan antarumat Katolik. Kebersamaan dalam doa dan peribadatan menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas gerejawi, serta memelihara hubungan yang dilandasi ketulusan dan saling menghargai.

 

Persaudaraan sejati tidak hanya diukur dari seberapa sering umat berkumpul dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dari kemampuan untuk saling mendukung, menjaga kepedulian, dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi terciptanya komunitas yang kuat, rukun, dan mampu menghadapi berbagai tantangan secara bersama-sama.

 

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Kabupaten Sikka, semangat keagamaan yang diwujudkan melalui doa, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama juga menjadi bagian penting dalam memelihara kerukunan serta memperkuat toleransi antarumat beragama.

 

Kehidupan beragama yang sehat bukan hanya tercermin melalui pelaksanaan ritual, melainkan juga melalui perilaku yang menghadirkan kedamaian, menghormati perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penghayatan iman diharapkan memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kehidupan internal umat, tetapi juga bagi terciptanya lingkungan sosial yang harmonis.

 

Seluruh rangkaian prosesi penyerahan dan penerimaan Patung Bunda Maria berakhir pada pukul 19.45 WITA. Kegiatan berlangsung dalam keadaan aman dan lancar, kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario bersama di Gereja Oikumene Polres Sikka.

 

Doa bersama tersebut menjadi peneguhan atas makna spiritual dari seluruh rangkaian kegiatan, sekaligus kesempatan bagi umat untuk kembali merefleksikan pentingnya menjaga ketekunan dalam berdoa dan mengamalkan nilai-nilai iman dalam kehidupan nyata.

 

Melalui kegiatan Bulan Rosario ini, umat Katolik di lingkungan Gereja Oikumene Polres Sikka diharapkan semakin bertumbuh dalam iman, semakin kokoh dalam persaudaraan, serta semakin konsisten menghadirkan kasih dan kepedulian terhadap sesama.

 

Pada akhirnya, esensi dari devosi kepada Bunda Maria tidak berhenti pada prosesi perarakan, pengalungan bunga, maupun doa yang dipanjatkan. Makna terdalamnya terletak pada sejauh mana keteladanan Bunda Maria mampu menginspirasi umat untuk hidup dalam kerendahan hati, kesetiaan, pengorbanan, dan kasih yang nyata.

 

Sebab, iman yang hidup bukan hanya iman yang diucapkan dalam doa, melainkan iman yang tercermin dalam sikap, diperkuat melalui persaudaraan, dan dibuktikan melalui tindakan nyata demi kebaikan bersama. [Cm24]

"POLISI BERSAMA MASYARAKAT"